panel header
BECIK KETITIK ALA KETARA
Berbuat Baik Atau Buruk Akhirnya Terlihat Juga
panel menu
panel news ticker
EKSPRESIKAN SAYANGMU... Ngucapin Valentine dapat hadiah? Yok Ikutan...!! Caranya mudah: (1) Bikin video ucapan kasih sayang durasi 1 menit. (2) Kirimkan ke wall facebook Suara Remaja atau share link Youtube ucapan kamu ke email suararemaja@ymail.com. Dapatkan modem, handphone, goodiebag, dan masih banyak lagi hadiah menarik. Ayo...buruan sekarang juga...!!
panel iklan Hosrizon
panel main 1
03 Juli 2006 | 18:04 wib
Dia yang hidup tanpa rahim (1)
image

Dia tetap tegar meski harus menopause dini. Rahimnya diangkat karena kista ovarium dan mioma uteri. Dia pun mengidap perlengketan usus, yang membuat perutnya dibedah tiga kali. Tapi, "Ini bukan penderitaan. Ini tantangan," kata Dra Hastaning Sakti, tenang. Psikolog ini pun bertutur kisah hidupnya pada SM CyberNews.

Sepanjang hidup, saya memang akrab dengan penyakit. Tapi situasi paling menakutkan adalah pada 1995 ketika menghadapi operasi pengangkatan kandungan dan indung telur. Itu situasi yang paling berat. Bayangkan, saya harus mengalami menopause lebih dini. Saat itu umur saya baru 35 tahun. Bayangkanlah, bagaimana rasanya seorang perempuan hidup tanpa ovarium. Padahal itu adalah harta yang paling berharga bagi perempuan. Saat itu saya tak bisa membayangkan bagaimana hidup sebagai perempuan tanpa kandungan.

Memang, sebenarnya tak apa-apa. Tapi piye? Masak perempuan harus kehilangan kandungan dan menopause semuda itu? Ya, semuda itu saya harus menghadapi hantu menopause yang selama ini ditakuti kaum perempuan. Harus mengalami kemunduran hasrat seksual.

Cukup lama pergulatan batin saya. Butuh waktu dua bulan untuk menata diri. Saya harus menata perasaan sendiri, sejauh mana, berapa persen saya mantap menjalani operasi itu. Pertama, saya harus bicara dengan bapak agar dia tak sok. Dua, membereskan masalah pekerjaan, dan ketiga, saya sendiri siap tidak menghadapi itu. Tak hanya siap lahir dan batin. Saya coba bicara pada diri sendiri, pada organ tubuh saya. Ini biasa saya lakukan tiap kali menghadapi penyakit. Saya katakan, 'Ya sudah kandungan, saya terima kasih, saya sudah diberi dua anak, kalau mau diambil Allah kembali ya monggo.' Dengan begitu saya siap menghadapi operasi. Untungnya saya memang sudah memiliki dua orang anak.

Ya, menopause memang penderitaan tersendiri. Bukan masalah seksual, tapi lebih pada keseimbangan hormon. Itu menyulitkan seorang perempuan. Misalnya saja, kulit mulai keriput, serta keluhan lain yang wajar dialami perempuan menopause.

Beruntung saya bisa menghadapi itu, meskipun harus melakukan sulih hormon setiap hari. Saya cari obat yang cocok dengan tubuh. Akhirnya ketemu juga, dan mahal sekali. Harganya sekitar Rp 200 ribu sampai Rp 250 ribu per ampul. Mungkin harga itu akan terus naik.

Selama 10 tahun terakhir ini saya mengonsumsi obat itu. Istilah medisnya Hormon Replacement Terapy (HRT) atau sulih hormon.

Suami mengerti kondisi saya, dan dia harus tahu. Ternyata menerima saja. Jadi tak begitu masalah. Saya juga tak merasa sedih. Saya justru ingin mematahkan stigma. Selama ini menopause jadi momok perempuan. Ternyata tidak. Buktinya masih bisa energik. Saya banyak bicara di seminar-seminar menopause. Saya memberi pemahaman bahwa menopause tak selalu menakutkan. Banyak di antara ibu-ibu yang mendengar ceramah saya tak tahu kondisi saya. Mungkin, jika mereka tahu saya sudah tak memiliki kandungan, mereka akan terhenyak kaget.

Usus Lengket

Sejak remaja, saya memang sudah akrab dengan penyakit. Saat duduk di bangku SMP pada 1974, saya kena usus buntu. Kemudian, pada 1977 saya mengalami gagar otak akibat jatuh dari motor.

Penderitaan beruntun baru saya alami sejak 1994. Beragam penyakit mulai menggerogoti tubuh. Awalnya saya merasa ada yang tak beres dalam perut, yang pada akhirnya mengakibatkan saya harus merelakan kehilangan kandungan. Kala itu, seringkali saya merasa kesakitan di sekitar kandungan. Saya belum memeriksakan hal itu ke dokter. Hingga sekitar 1995 saya mengalami pendarahan hebat. THasil deteksi dokter, saya divonis menderita kista ovarium. Tergolong sudah sangat parah. Dokter memutuskan indung telur saya harus diangkat. Pada tahun itu juga indung telur saya sebelah kanan diangkat. Tapi itu tak menyembuhkan. Tak berapa lama kemudian saya mengalami gejala yang sama. Meski indung telur saya sudah diangkat, ternyata perut masih saja sakit. Ternyata sumbernya dari indung telur sebelah kiri, dan harus diangkat. Saya baru tahu kemudian, pengangkatan bagian kanan diangkat lebih dulu karena dianggap sudah parah. Indung telur sebelah kiri tak begitu parah. Begitu dua indung telur saya diangkat, dan menyusul kemudian kandungan saya, karena penyakit mioma uteri.

Bersamaan dengan pembedahan itu, usus saya mengalami masalah perlengketan. Jadi saat itu usus saya juga dibenahi. Namun tak sampai dipotong. Usus yang lengket hanya ditempel di dinding perut. Rupanya sejak saat itu, usus saya terus bermasalah.

Pada 1996, kambuh. Akhirnya pada 1997, perut saya dibuka lagi, operasi! Tak selesai. Ternyata pada 1999 kambuh lagi. Masuk rumah sakit, operasi lagi, saat itu tak ditempel. Tapi usus saya kata dokter dirampel. Ndak tahu itu diapakan. Meski perut saya sudah dibedah tiga kali, saya masih sering mengalami kram usus.

Menolak Operasi

Praktis sejak 2001 sampai kini saya dalam kondisi sakit. Dokter menganjurkan usus saya harus dipotong. Tapi saya belum melakukannya. Saya ingat, sudah dua kali usus saya diedel-edel. Dulu saja meski tak dipotong rasanya sakit sekali. Terutama setelah sadar, bisa makan, sakitnya luar biasa. Saya bayangkan, bagaimana seandainya usus saya dipotong, tentu sakitnya lebih hebat lagi. Namun diagnosa dokter tetap menyarankan saya untuk operasi potong usus.

Saya coba cari pendapat dari dokter lain. Berharap dengan mencari second opinion ada pendapat berbeda. Saya minta pendapat dokter di Yogyakarta. Ternyata hasilnya tak berbeda jauh. Hasil diagnosa, dokter tetap menyarankan operasi. Dokter bilang anytime kalau saya masuk rumah sakit langsung operasi. Kecele saya.

Saya masih saja menawar. Sampai saat ini saya masih menyimpan surat untuk operasi. Malunya, kalau harus konsultasi ke dokter yang sama. Malu karena saya membandel. Memang sampai saat ini, kalau kumat, perut kembung dan terasa sesak. Kadang tiba-tiba saja bisa muntah darah. Sedih sekali memang. Saya tak bisa membungkuk, kalau dipaksakan perut saya sakit sekali. Untuk sujud pun tak bisa. Misalnya harus mengambil benda di lantai, harus pakai kaki kalau tak ingin perut ini sakit. Sampai kini saya tak tahu, kenapa terjadi perlengketan usus. Tapi saya belum juga berani untuk operasi.

Sementara ini untuk mengatasi rasa sakit, saya tak makan nasi, makanan keras, serta minuman bersoda. Selama tiga tahun ini saya hanya mengkonsumsi bubur halus, susu berkalori tinggi. Coba bayangkan bagaimana rasanya orang yang biasa makan nasi tak makan nasi. Tapi syukurlah, saya tetap diberi kekuatan, dan tak loyo.

(eko nuryanto/CN02)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
08 Februari 2012 | 15:14 wib
Dibaca: 523
image
07 Februari 2012 | 10:09 wib
Dibaca: 1175
image
06 Februari 2012 | 15:37 wib
Dibaca: 679
image
02 Februari 2012 | 11:53 wib
Dibaca: 764
image
01 Februari 2012 | 15:49 wib
Dibaca: 1029
Panel menu tepopuler dan terkomentar
07 Februari 2012 | 10:09 wib
01 Februari 2012 | 15:49 wib
02 Februari 2012 | 11:53 wib
06 Februari 2012 | 15:37 wib
08 Februari 2012 | 15:14 wib
FOOTER