panel header


GUPAK PULUT ORA MANGAN NANGKANE
Capek Bekerja Tidak Dapat Hasilnya
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
30 September 2013 | 13:08 wib
Mengenal Calon Kapolri (1)
Komjen Sutarman, Jual Tunggak Bambu Hingga Menggembala Kerbau
.

NAMA Komisaris Jenderal Sutarman, akhir-akhir ini menyedot perhatian publik. Perwira tinggi yang menjabat Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) ini merupakan calon tunggal Kapolri yang disodorkan oleh Presiden SBY. Siapakah Sutarman dan kesehariannya di masa muda?

Sutarman, lahir 5 Oktober 1957 di dukuh Dayu RT 3/11 Desa Tawang, Weru, Sukoharjo. Dia merupakan putra sulung pasangan petani Pawiro Mihardjo Paidi -(almh) Samiyem. Ibu kandung Sutarman sudah meninggal karena sakit kanker payudara sejak beberapa tahun silam. Tarman, begitu Jenderal Bintang Tiga ini dipanggil di kampung.

Kampung halaman Tarman berada ujung selatan Kabupaten Sukoharjo, jauh dari gemerlap kota. Jika dihitung dari pusat pemerintahan di Sukoharjo, jaraknya berkisar 20 an kilometer.

Kehidupan Tarman kecil tidak jauh berbeda dengan teman sebayanya. Dia lahir dari keluarga sederhana dengan empat adik. Mereka Yaitu, Sutikno (Blora), Harmini (Sukoharjo), Haryati (Sukoharjo), serta Siti Harwanti (Purwokerto).

Meski sekarang berpangkat Jenderal, namun kesederhanaan anak petani ini tetap terlihat. Bahkan, rumah yang saat ini ditinggali oleh orangtuanya saja baru beberapa tahun silam direnovasi.

Tetapi meski sudah direnovasi, bangunan itu nampaknya masih jauh dari kata mewah untuk ukuran rumah orangtua Kabareskrim. Hanya ada bangunan induk dan satu bangunan yang difungsikan sebagai padepokan seni karawitan "Sedayu Laras". Garasi mobilpun tidak ada. Jadi setiap ada mobil yang datang langsung parkir di halaman.

Di mata teman-temannya, mantan Ajudan Presiden Gur Dur ini adalah sosok pekerja keras. Sejak sekolah, dia sudah membantu orangtuanya bekerja di sawah hingga menggembala kerbau.

Bahkan, mantan kapolda Metro Jaya ini sempat menjadi kuli bangunan di Semarang. Tidak hanya itu, Jenderal tiga anak ini juga sempat jualan tongseng di Gembrong, Jakarta. Slamet Riyanto (58) adalah salah satu teman istimewa Tarman dikala masih di Dayu.

Setiap kali Tarman pulang kampung, orang yang dicari kali pertama adalah pria ini. Sebab, sejak kecil hingga diterima AKABRI, mereka selalu bersama-sama.

"Setiap hari saya itu sama Tarman. Angon kebo (menggembala kerbau) cari rumput, tidur dan main bareng. Dia SD di MI Ganggang, lalu melanjutkan ke SMP Muhammadiyah Cawas, Klaten dan STM di Sukoharjo (sekarang Bina Patria I Sukoharjo) jurusan mesin," ujar Slamet Riyanto alias Tekmek.

Menurut Slamet, dulu setelah sekolah Tarman tidak akan makan sebelum mencarikan pakan untuk ternak kerbaunya. Bahkan, setiap minggu Tarman membantu mbah Pawiro menjual tunggak bambu ke Pasar Cawas.

Pernah juga Tarman bekerja sebagai buruh di lahan tebu dan membuat keset dari sekung (sepet kelapa) untuk dijual. "Pokoknya segala yang keras itu sudah dilalui Tarman. Benar-benar tekun dan rajin dan pinter sejak dulu," imbuhnya.

Persahabatan mereka terpisah tatkala Tarman diterima AKABRI tahun 1981 silam. Tarman remaja harus menjalani pendidikan di Magelang, sedangkan dia tetap berada di Dayu. "Tarman pernah gagal mendaftar sebagai AKABRI. Tetapi karena cita-citanya sejak kecil memang ingin masuk AKABRI, dia daftar lagi," kenangnya.

Sampai akhirnya dia mendaftar lagi dan diterima. Sesaat sebelum mendaftar yang kedua itulah, Slamet mempunyai pengalaman yang tidak pernah terlupakan.

Sehari sebelum mendaftar, Tarman minta rambutnya dipotong. Karena itulah, Slamet kemudian menggunduli kepala Jenderal Bintang Tiga tersebut. "Saat itu saya bilang, Tar (Tarman-red) kowe tak cukur keri dewe iki, suk kudu klebu (Tar, kamu saya potong rambutmu yang terakhir, besok harus masuk AKABRI)," kenang pria berambut panjang ini.

Ternyata doa tersebut terkabul. Sebab selang sehari setelah pendaftaran, dia mendapat kabar Tarman diterima. Saking gembiranya, Slamet mengaku sempat menyusul Tarman ke Magelang untuk melihat Tarman berseragam taruna. Tetapi, karena sesuatu hal, Slamet tidak bisa melihat. Meskipun dia sudah sampai di Magelang.

Mungkin untuk kenang-kenangan, gunting yang dia gunakan untuk menggunduli mantan Kapolda Jabar itu sampai saat ini masih dia simpan. Dan rambut Tarman lah yang terakhir dia potong menggunakan gunting tersebut. Sebab setelah menyukur Tarman, gunting itu "dipensiunkan".

"Gunting itu masih saya simpan sampai sekarang. Kondisinya memang sudah tidak bagus, tetapi dulu setiap yang saya cukur pakai gunting ini pasti jadi pegawai," katanya sembari tertawa.

Meski Slamet adalah sahabat paling spesial mantan Kapolda Kepri ini, namun Slamet yang tinggal hanya beberapa meter dari rumah Tarman di kampung, belum pernah ke rumah temannya itu di Jakarta. Padahal, setiap kali pulang Tarman selalu memintanya untuk datang ke rumahnya di Jakarta atau jika perlu ke kantornya.

"Saya akan ke kantornya kalau Tarman sudah jadi Kapolri. Itu nazar saya. Nanti gunting yang saya gunakan untuk nyukur rambutnya dulu, mau saya tunjukkan," ucap Slamet.

Bangga

Terkait dengan posisi Komjen Sutarman yang saat ini menjadi calon tunggal dan hampir pasti menjadi Kapolri, Slamet mengaku sangat bangga. Sebab, Tarman yang dulu dikenalnya sebagai anak kampung tetapi pekerja keras dan displin, bakal menjadi orang hebat bahkan memimpin Korps Bayangkara.

"Saya benar-benar bangga. Saya berdoa, semoga Tarman menjadi pejabat yang baik dan tidak neko-neko. Saya percaya dia orang baik dan pantas untuk jadi Kapolri," harap bapak dua anak ini.

( Heru Susilo / CN33 / SMNetwork )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga



Panel menu
Solo Terbaru
Index Berita
05 September 2014 | 22:45 wib
Dibaca: 2642
image
05 September 2014 | 22:00 wib
Dibaca: 2765
05 September 2014 | 18:59 wib
Dibaca: 1654
05 September 2014 | 18:18 wib
Dibaca: 387
05 September 2014 | 17:56 wib
Dibaca: 366
Panel menu tepopuler dan terkomentar
Berita Terpopuler
05 September 2014 | 22:00 wib
04 September 2014 | 17:00 wib
05 September 2014 | 22:45 wib
04 September 2014 | 03:13 wib
FOOTER