panel header


AMBEG PRAMA ARTA
Memberikan Prioritas Pada Hal-hal Yang Mulia
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
21 April 2013 | 19:54 wib
Perdes Rubuha Dibuat, Petani Urunan Pakan


KLATEN, suaramerdeka.com -
Berjalan areal persawahan Desa Gledeg, Kecamatan Karanganom berbeda dibanding daerah lain. Di setiap dua petak lahan di desa itu, terdapat deret rumah burung hantu (rubuha).

Rumah kecil sederhana ditopang dengan batang bambu terlihat menjulang di tengah lahan. Selain banyak rubuha bertebaran, di setiap persimpangan jalan ada papan tulisan ''Dilarang, Menembak, Merusak, Mengganggu Burung Tyto Alba dan Rubuha. Perdes 3/ 2012,''.

Menurut ketua tim pengembangan burung hantu Desa Gledeg, Agus Haryono petani tidak beternak dalam artian untuk mencari untung. Rubuha, papan larangan dan kandang penangkaran burung hantu di desanya adalah simbol kejengkelan petani pada hama tikus. ''Kami mengatasi hama tikus secara alami. Sebab jika ditangani cara kekerasan malah nekat,'' ungkapnya, Minggu (21/4).

Menurut Agus, petani di desanya sejak enam bulan silam mencoba mengatasi tikus dengan musuh alami. Di desanya, lahan 65 hektare sudah beberapa kali tidak panen. Jika ada yang panen tidak maksimal. Berbagai cara dilakukan untuk mengatasi dengan racun, gropyokan dan emposan namun tidak maksimal. Sebagai hewan koloni tikus memiliki prilaku sosial.

Satu diserang, malam berikutnya tikus lain akan menyerang lebih ganas. Dari kondisi itu, petani mencari literatur dan menemukan burung hantu sebagai solusi. Petani tak segan ngangsu kaweruh ke Kabupaten Demak untuk menangkarkan burung hantu. Kini, sudah ada dua pasang burung hantu liar yang ditangkarkan di kandang.

Burung itu burung liar yang disediakan kandang dan pakan. Sebab nyaman, dua pasang itu kini sudah berkandang. Untuk upaya itu, warga swadaya kandang dan pakan. Setiap dua hari sekali, petani setor tikus hidup ke kandang untuk pakan sebagai pancingan. Kini, dua pasang burung hantu itu sudah berburu sendiri ke lahan dan pulang ke kandang yang dibangun warga. Petani berharap, burung lain akan bertempat tinggal di puluhan rubuha yang sudah didirikan.

Sekretaris tim pengembangan burung hantu Desa Gledeg, Awaludin Harhara menjelaskan, selain di kandang, ada delapan ekor yang berdiam di gedung aula desa. ''Warga membiarkan burung hantu itu bermukim. Harapannya akan menarik burung liar lain,'' jelasnya.

Untuk mendukung pemanfaatan burung hantu sebagai pembasmi tikus pemerintah desa membuat Perdes 3/ 2012 tentang larangan menembak buruh hantu. Jika dilanggar sanksinya bisa denda ratusan ribu. Kini, upaya warga mulai membuahkan hasil.

Sejak 12 ekor burung hantu bermukim di desa, beberapa hektare lahan di dekat sarang aman dari tikus. Petani bisa panen. Setiap hari, petani menemukan kepala tikus di pematang. Tikus itu korban burung hantu sebab satu malam satu ekor burung memerlukan mangsa tiga ekor tikus. Jika burung sedang beranak, naluri membunuhnya bisa maksimal sampai 30 ekor setiap malam.

( Achmad Hussain / CN34 / JBSM )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
Solo Terbaru
05 September 2014 | 22:45 wib
Dibaca: 28864
image
05 September 2014 | 22:00 wib
Dibaca: 27508
05 September 2014 | 18:59 wib
Dibaca: 7653
05 September 2014 | 18:18 wib
Dibaca: 750
05 September 2014 | 17:56 wib
Dibaca: 678
Panel menu tepopuler dan terkomentar
Berita Terpopuler
FOOTER