panel header


KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK
Banyak Pengeluaran, Kurang Penghasilan
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
11 Juni 2013 | 01:28 wib
UKT Dianggap Memberatkan Ortu Mahasiswa

SEMARANG, suaramerdeka.com - Penerapan kebijakan uang kuliah tunggal (UKT) di sejumlah perguruan tinggi negeri (PTN) di Kota Semarang masih dianggap memberatkan oleh sebagian pihak baik orang tua calon mahasiswa ataupun mahasiswa yang tergabung dalam Badan Ekskutif Mahasiswa (BEM). Mereka menilai kebijakan tersebut masih sama dengan sistem pembayaran yang berlaku di perguruan tinggi seperti selama ini.

Salah satu orang tua calon mahasiswa, Imam Rahmayadi (41) mengatakan, biaya kuliah dengan UKT jika di total nilainya juga tetap mahal. "Hal itu tidak hanya berlaku bagi jurusan Ilmu Kedokteran di Undip, tapi juga untuk prodi non Kedokteran lainnya," ungkapnya bekerja di sebuah media online di Semarang itu.

Menurut ayah dari Rahmawan Bagus Maheyasa yang diterima di Ilmu Kedokteran Undip melalui jalur SNMPTN itu, biaya yang ditetapkan PTN dalam UKT masih belum bisa terjangkau oleh orang tua siswa seperti dirinya. Untuk kategori I dan II sebesar Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta itu dikenakan oleh mahasiswa dari keluarga miskin, tetapi kategori III hingga V yang sebesar Rp 10 juta hingga Rp 18,5 juta jika dibebankan kepada orang tua dengan penghasilan rata-rata tentu memberatkan.

"Namun niat orang tua untuk memberikan pendidikan terbaik kepada anaknya kan tidak salah, apalagi si anak memiliki potensi akademik yang bagus. Sehingga harapan saya jangan sampai ada kamuflase kapitalisasi pendidikan melalui kebijakan UKT ini," tuturnya yang juga telah mengajukan surat keberatan ke pihak universitas.   

Sementara itu, BEM KM Universitas Negeri Semarang (Unnes) akan turut mengawal dan mengawasi penerapan UKT kepada para calon mahasiswa baru tahun akademik 2013/2014 ini.

Presiden BEM KM Unnes Mahmud Kuncahyo mengatakan, pihaknya sudah cukup lama tahu tentang kebijakan UKT tersebut. "Dengan adanya kebijakan itu memang tidak terlalu banyak kontra. Sebab, selama ini kontribusi Unnes terhadap mahasiswa miskin tidak perlu diragukan lagi. Sehingga saat ini kami hanya perlu melakukan pengawalan dan pengawasan," ungkap mahasiswa dari prodi Pendidikan IPA FMIPA Unnes itu.

Adapun dalam pengawalan dan pengawasan oleh BEM KM Unnes adalah turut melakukan survei ke rumah calon mahasiswa yang dalam UKT masuk dalam kategori I dan II. "Sebanyak 170 mahasiswa dilibatkan dalam cek lapangan oleh universitas untuk mengetahui mahasiswa bersangkutan benar-benar miskin atau tidak," tutur Mahmud.

( Anggun Puspita / CN39 / SMNetwork )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
Semarang Terbaru
image
05 September 2014 | 23:15 wib
Dibaca: 5704
05 September 2014 | 22:15 wib
Dibaca: 2934
05 September 2014 | 21:15 wib
Dibaca: 1893
image
05 September 2014 | 19:45 wib
Dibaca: 2055
image
05 September 2014 | 18:32 wib
Dibaca: 1119
Panel menu tepopuler dan terkomentar
Berita Terpopuler
05 September 2014 | 23:15 wib
05 September 2014 | 22:15 wib
02 September 2014 | 15:30 wib
05 September 2014 | 19:45 wib
FOOTER