panel header


CRAH AGAWE BUBRAH
Bercerai Kita Runtuh
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
14 Mei 2013 | 02:31 wib
Pengusaha Tolak Monopoli PT Pelindo

SEMARANG, suaramerdeka.com - Kalangan pengusaha yang tergabung dalam Forum Komunikasi Asosiasi Maritim (FKAM) Tanjung Emas merasa dirugikan akibat monopoli PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) dalam pengelolaan Pelabuhan Tanjung Emas. Mereka sepakat menolak menggunakan jasa PT Pelindo III Cabang Tanjung Emas.

Ketua Harian FKAM Eddy Raharto mengatakan, monopoli kegiatan jasa kepelabuhanan di lingkungan Pelabuhan Tanjung Emas dapat mematikan perusahaan bongkar muat (PBM) milik swasta. Salah satu bentuk monopoli yang dilakukan PT Pelindo III Cabang Tanjung Emas adalah perusahaan swasta dilarang melakukan bongkar muat di kawasan dermaga Pelabuhan Dalam.

"Hanya perusahaan bongkar muat (PBM) milik Pelindo III Cabang Tanjung Emas Semarang yang bisa beroperasi di Pelabuhan Dalam. Ini jelas merugikan pengusaha swasta," katanya.

FKAM adalah wadah asosiasi yang terdiri atas sembilan asosiasi pengguna jasa pelabuhan, seperti Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI), Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Indonesian National Shipowners Association (INSA), Pelayaran Rakyat (Pelra), Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI), Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (Ginsi), Asosiasi Depo Kontainer Indonesia (Asdeki), dan  Organisasi Angkutan Darat (Organda) Pelabuhan Tanjung Emas.

Mereka sepakat menolak bentuk monopoli Pelindo III di Tanjung Emas dan tidak membayar biaya jasa sejak Januari 2013.

"Saat ini monopoli terjadi di kegiatan bongkar muat, tapi ke depan bisa jadi merembet pada angkutan trailer. Karena PT Pelindo juga punya banyak armada," tandasnya.

Ketua Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI) Jateng, Romulu Simangunsong meminta Pelindo III lebih baik meningkatkan pelayanannya kepada pengguna jasa, untuk bersaing dengan pelabuhan lainnnya, terutama ASEAN untuk menghadapi AEC 2015. Daripada bersaing dengan perusahaan bongkar muat lokal yang sudah ada selama ini.

Menurut dia, saat ini PT Pelindo III  mengharuskan perusahaan bongkar muat swasta yang ingin beroperasi di Pelabuhan Dalam, harus melakukan kerjasama dengan Pelindo. Perusahaan tersebut juga harus membayar imbal hasil kepada Pelindo III.

"Kalau tidak mau, perusahaan bongkar muat tersebut hanya dapat melakukan bongkar muat di lokasi selain Pelabuhan Dalam dengan peralatan seadanya, seperti misalnya di dermaga Ex-PLTU," tuturnya.

Padahal antrian kapal di luar Pelabuhan Dalam cukup banyak. Tiap kapal bisa antri hingga 5-6 hari. Jika Pelabuhan Dalam bisa dimanfaatkan secara terbuka oleh umum, maka antrian panjang tidak akan terjadi. "Pelindo memang merenovasi pelabuhan dengan melakukan peninggian. Tapi Pelindo kemudian memonopoli fasilitas yang seharusnya menjaid milik umum," papar dia.

Bila monopoli ini dibiarkan terus-menerus, perusahaan bongkar muat swasta lama-lama akan terancam bangkrut. Mereka tidak bisa melawan BUMN dengan dukungan fasilitas sarana dan prasarana pendanaan yang sangat besar.

( Fani Ayudea / CN39 / SMNetwork )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
Semarang Terbaru
image
05 September 2014 | 23:15 wib
Dibaca: 41616
05 September 2014 | 22:15 wib
Dibaca: 28370
05 September 2014 | 21:15 wib
Dibaca: 8122
image
05 September 2014 | 19:45 wib
Dibaca: 8605
image
05 September 2014 | 18:32 wib
Dibaca: 1917
Panel menu tepopuler dan terkomentar
Berita Terpopuler
FOOTER