panel header


KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK
Banyak Pengeluaran, Kurang Penghasilan
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
20 Januari 2013 | 18:10 wib
Jaran Hokya, Perlindungan Alami dari Pengaruh Halluyu
image

EVALUASI KONTEN: Relawan dari Komunitas Literasi Media Jantaka memberikan paparan evaluasi konten tayangan televisi yang kurang tepat bila ditonton anak - anak usia sekolah di tengah kegiatan Sorak - Sorak Hokya, Minggu (20/1). (sua

SEMARANG, suaramerdeka.com - Hokya hokya...e hokya hokya..., seruan pekik semangat yang juga berlaku sebagai arahan tersebut sengaja di serukan oleh sejumlah relawan yang tergabung dalam Komunitas Literasi Media Jantaka.

Dengan pakaian layaknya prajurit berkuda, anak - anak dari Dusun Resowinangun, Desa Pledoan, Sumowono Kabupaten Semarang pun menanggapinya dengan berbagai perpaduan gerak tari dari berbagai daerah. Seperti gangnam, tari Tor-tor Batak, dan Tari Saman dari Aceh.

Koordinator Jantaka, Retno Manuhoro saat ditemui di sela-sela kegiatan 'Sorak - Sorak Hokya' mengatakan, tarian Jaran Hokya bisa dijadikan media pengingat bagi masyarakat bila sesungguhnya Indonesia juga punya tarian asli yang bagus dan harus dilestarikan.

Sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat menyusul gencarnya pengaruh halluyu atau korean wave, relawan yang datang dari berbagai profesi ini selanjutnya mengadakan riset dan pertunjukan literasi media.

"Melalui cuplikan, pemahaman, hingga komunikasi langsung dengan masyarakat dalam hal ini anak - anak usia SMP di Pledoan, Sumowono kami percaya kelak mereka bisa memilih tayangan televisi yang baik sesuai dengan umur," katanya, Minggu (20/1).

Dirinya mengaku miris, setelah melihat kondisi anak - anak yang semakin hari semakin brutal karena kurangnya pendampingan orang tua ketika menonton tayangan televisi.

Berawal dari itulah, dia bersama teman - temannya di Rumah Uplik Sumowono kemudian memberikan pemahaman kepada masyarakat.

"Kami tidak bisa serta merta melarang masyarakat untuk menonton televisi, karena bagaimanapun yang kami lawan adalah dunia industri media. Namun kami optimis, dengan memperlihatkan tarian, dongeng, hingga tampilan kesenian setempat secara berkelanjutan, masyarakat nantinya akan paham tentang literasi media," jelasnya.

Pada saat bersamaan, warga yang mendapat pendampingan dari pamong budaya Disporabudpar Kabupaten Semarang juga menyajikan musik 'Reog Bumbung'.

Informasi yang berhasil dihimpun, musik yang salah instrumennya adalah bumbung (bambu-red) yang ditiup itu sudah lama ditinggalkan warga karena tidak ada yang meneruskannya.

( Ranin Agung / CN37 / JBSM )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
Semarang Terbaru
image
05 September 2014 | 23:15 wib
Dibaca: 7554
05 September 2014 | 22:15 wib
Dibaca: 3906
05 September 2014 | 21:15 wib
Dibaca: 2531
image
05 September 2014 | 19:45 wib
Dibaca: 2734
image
05 September 2014 | 18:32 wib
Dibaca: 1162
Panel menu tepopuler dan terkomentar
Berita Terpopuler
FOOTER