panel header


CRAH AGAWE BUBRAH
Bercerai Kita Runtuh
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
03 Juni 2012 | 18:00 wib
Rawapening Tercemar Limbah Hotel
image

CARI IKAN: Seorang warga terlihat mencari ikan dengan menggunakan sampan di danau Rawapening yang banyak ditumbuhi enceng gondok, Minggu (3/6). (suaramerdeka.com / Ranin Agung)

UNGARAN, suaramerdeka.com - Pencemaran limbah hotel dari Kabupaten Semarang yang masuk ke aliran sungai menuju danau Rawapening cukup mengkhawatirkan. Hal tersebut merupakan imbas dari buruknya pengelolaan limbah di masing-masing hotel, dan restoran. Terutama pada hotel dan restoran yang belum memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL).

"Kami mencatat ada pencemaran di Rawapening. Pencemaran tersebut semakin parah setelah masing-masing hotel dan restoran tidak memiliki IPAL, sehingga limbah yang ada langsung masuk ke aliran sungai dan bermuara di Rawapening," jelas Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kab. Semarang, Supramono, Minggu (3/6).

Menurutnya, jika mengacu pada ketentuan Undang-undang Nomor 32 tahun 2009 tentang pengelolaan lingkungan dan Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 2012 tentang izin lingkungan sebenarnya sudah jelas, di mana penerapan pengelolaan dan pemantauan lingkungan sudah sedemikian ketat.

Termasuk dalam mengatur limbah yang mengancam lingkungan hidup termasuk manusia serta makhluk hidup lainnya. Dalam Upaya Pengelolaan lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) pihak BLH Kabupaten Semarang mewajibkan pengusaha untuk membuat sumur resapan air, melakukan reboisasi, dan melakukan pengolahan limbah cair maupun padat termasuk sampah.

"Petugas menemukan senyawa fenol yang masuk kategori bahan berbahaya beracun (B3) pada air Rawapening. Bila terakumulasi terus-menerus, senyawa fenol justru akan bersifat sebagai penyubur tumbuhan enceng gondok. Dari temuan itu, kami akan melakukan penelusuran dan kajian pada aliran sungai. Siapa yang terbukti melanggar tentu akan mendapatkan teguran untuk memperbaiki atau membangun IPAL," ujarnya.

Terpisah, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Semarang, Edi Djatmiko menjelaskan, temuan di lapangan memang benar, tidak semua hotel di Kabupaten Semarang belum mempunyai UKL dan UPL. Terlepas dari itu, pihaknya beranggapan syarat wajib UKL dan UPL baru saja dikeluarkan setelah penerbitan Peratuan serta Undang-undang yang mengatur lingkungan.

( Ranin Agung / CN26 / JBSM )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
Semarang Terbaru
image
05 September 2014 | 23:15 wib
Dibaca: 4514
05 September 2014 | 22:15 wib
Dibaca: 2304
05 September 2014 | 21:15 wib
Dibaca: 1519
image
05 September 2014 | 19:45 wib
Dibaca: 1655
image
05 September 2014 | 18:32 wib
Dibaca: 1078
Panel menu tepopuler dan terkomentar
Berita Terpopuler
05 September 2014 | 23:15 wib
05 September 2014 | 22:15 wib
02 September 2014 | 15:30 wib
05 September 2014 | 19:45 wib
FOOTER