panel header


KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK
Banyak Pengeluaran, Kurang Penghasilan
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
02 September 2014 | 02:35 wib
Korupsi GOR Indoor Salatiga
Dokumen Dipalsukan, Nama Dosen Teknik Ikut Dicatut

SEMARANG, suaramerdeka.com - Sejumlah dokumen dalam proyek pembangunan gedung olahraga (GOR) indoor Salatiga banyak yang dipalsukan sejak kontrak dimulai hingga pencairan dana pembayaran. Dalam kasus ini diketahui pula nama Joko Purwanto ST, MT, seorang dosen Teknik juga dicatut nama menjadi koordinator pengawas dalam proyek tersebut.

Hal ini terungkap dalam keterangan saksi-saksi untuk terdakwa Agus Yuniarto, pemilik PT Tegar Arta Kencana dan Joni Setiadi, mantan bendahara KONI Salatiga di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang, Senin (1/9).

Trisnawati, staf bagian teknik CV Temadea sebagai konsultan pengawas, mengaku diperintahkan Joko Siswanto, komisaris CV Temadea untuk memalsu tandatangan Setyo Aditomo, direkturnya dalam dokumen berita acara pengawasan. Dalam kasus ini Joko Siswanto juga menjadi tersangka tapi belum disidangkan.

''Saya hanya disuruh (memalsu) tandatangan direktur dalam dokumen berita acara,'' kata Trisnawati di hadapan majelis hakim yang diketuai Gatot Susanto.

Sementara itu, Direktur CV Temadea, Setyo Aditomo mengakui tandatangannya dipalsukan Joko Siswanto yang masih kakak iparnya ini semata-mata untuk kepentingan CV Temadea. Tak hanya itu, seorang dosen Teknik Universitas Semarang (USM) Joko Purwanto juga dipinjam ijasah atau lisensi sertifikasi untuk kepentingan proyek.

''Soal proyek itu saya tak tahu apa-apa. Nama dan tandatangan juga dicatut, begitu pula dengan ijasah,'' terang Joko Purwanto.

Atas keterangan tersebut, Joko Siswanto membenarkannya. Hal ini dilakukannya untuk memudahkan dalam pengurusan perusahaan konsultan terkait proyek gedung olahraga itu. ''Tandatangannya memang palsu,'' katanya.

Belum berhenti di situ, pemalsuan tandatangan juga dilakukan terdakwa Agus Yuniarto terhadap istrinya Widayati Hidayati. Saksi menyatakan tidak pernah menandatangani dokumen apapun karena dalam menjalankan perusahaan, semuanya dilakukan oleh suaminya, Agus.

Dalam kasus ini, pembangunan gedung olahraga ini dilakukan oleh pemenang tender PT Tegar Arta Kencana. Laporan fisik dinyatakan proyek telah 100% dan disetujui konsultan pengawas. Namun hasil uji laboratorium bahan dan konstruksi Teknik Sipil Undip terjadi kekurangan volume beton terpasang 73,12 meter kubik atau setara Rp 230 juta.

Dengan adanya laporan prestasi 100% itu diajukan permintaan pembayaran kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPKom) dalam hal ini Joni Setiadi. Pembayaran ini disetujui tanpa pemeriksaan fisik oleh tim pemeriksa dari komite.

Dari pengajuan pencairan dana sesuai nilai kontrak Rp 3,94 miliar sebagian dipakai untuk pembangunan Rp 3,35 miliar, membayar PPN Rp 50 juta lalu sisanya yakni kelebihan pembayaran Rp 230 juta dan PPN yang tidak dibayarkan sebesar Rp 318 juta.

Dana jasa konsultasi pengawasan pembangunan oleh CV Tamadea dicairkan sebesar Rp 49,7 juta tetapi hanya Rp 4,4 juta yang dibayarkan untuk PPN sedangkan sisanya Rp 45 juta digunakan Joko Siswanto. Kerugian negara dalam kasus ini diperkirakan sekitar Rp 583,9 juta.

( Modesta Fiska / CN39 / SMNetwork )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share

Baca Juga


Panel menu
Berita Terbaru
05 September 2014 | 23:56 wib
Dibaca: 212307
05 September 2014 | 23:45 wib
Dibaca: 231755
05 September 2014 | 23:30 wib
Dibaca: 232675
image
05 September 2014 | 23:15 wib
Dibaca: 251091
05 September 2014 | 23:00 wib
Dibaca: 233825
Panel menu tepopuler dan terkomentar
 Berita Terpopuler
FOOTER