panel header


GUPAK PULUT ORA MANGAN NANGKANE
Capek Bekerja Tidak Dapat Hasilnya
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
14 Februari 2014 | 06:27 wib
Kasus Satinah Termasuk Harga Diri Bangsa Indonesia

UNGARAN, suaramerdeka.com - Kasus Satinah, semestinya disikapi serius oleh pemerintah Indonesia. Menurut Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Semarang, Mas'ud Ridwan negosiasi yang dilakukan pemerintah sampai saat ini belum ada titik temu.

"Nego yang berjalan cukup lama ini mungkin bisa dimaksimalkan, agar perjuangan yang selama ini dilakukan tidak sia-sia. Yang jelas, kasus Satinah termasuk harga diri bangsa Indonesia," katanya.

Kalau memang ada kendala dalam pemenuhan diyat, pihaknya berharap pemerintah bisa memberikan alternatif yang mungkin bisa dijadikan solusi. Artinya, untuk eksekusi yang menurut informasi akan dilakukan April 2014 mendatang bisa ditunda bahkan dibatalkan. "Agak susah memang, pasalnya berkaitan dengan kemampuan pemerintah Indonesia dengan tuntutan yang diminta keluarga korban," ungkapnya.

Mas'ud menyayangkan, bila dibandingkan dengan kasus Corby. Menyusul, pemerintah Indonesia dinilai belum maksimal dalam hal pendekatan jika terjadi suatu kasus yang menyangkut hubungan luar negeri.

"Kasus narkoba jauh lebih berat dan berbahaya, tetapi pemerintah kita bisa dibilang cukup lemah menangkap persoalan itu. Ini sama seperti Satinah yang seolah-olah tidak memperlihatkan hasil kerja yang maksimal," tandasnya.

Seperti diketahui, ibu dari Nur Afriana (20) yang tercatat sebagai warga RT 2 RW 3 Dusun Mrunten Wetan, Kalisidi, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang ini semestinya akan dieksekusi antara 5-8 Februari 2014.

Namun atas upaya Lembaga Pemaafan dan Gubernur Provinsi Qaseem yang melobi ahli waris korban, pemerintah RI akhirnya diberi waktu untuk bernegosiasi soal nominal uang diyat hingga 3 April 2014 mendatang.

Nur Afriana telah mengirimkan surat kepada ahli waris korban. Dalam surat tersebut, dia meminta agar ahli waris keluarga korban bersedia memaafkan Satinah dan menerima uang diyat (uang pengganti darah-red) senilai 4 juta riyal saudi atau Rp 12 miliar. Tetapi diyat yang diminta pihak ahli waris keluarga korban mencapai 7 juta riyal saudi atau Rp 22 miliar.

"Saya tidak tega melihat dia (Satinah-red), dirinya mengeluarkan air mata namun bisa menangis," ungkap Paeri (46), kakak Satinah yang belum lama ini kembali bertolak ke Arab Saudi bersama Nur Afriana.

Mengetahui waktu eksekusi Satinah kian dekat, Direktur Perlindungan WNI dan BHI, Tatang Budie Utama Razak mengatakan, hanya bisa memberikan uang diyat senilai Rp 12 miliar. Uang itu bersumber dari anggaran Kemenlu sebesar Rp 9,7 miliar, sumbangan dari Asosiasi Perusahaan Tenaga Kerja Indonesia Rp 1,6 miliar, dan sisanya dari donatur asal Arab Saudi sebanyak Rp 1,6 miliar.

( Ranin Agung / CN26 / SMNetwork )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share

Baca Juga


Panel menu
Berita Terbaru
03 September 2014 | 04:31 wib
Dibaca: 135
03 September 2014 | 04:17 wib
Dibaca: 175
03 September 2014 | 04:04 wib
Dibaca: 207
03 September 2014 | 03:50 wib
Dibaca: 318
03 September 2014 | 03:36 wib
Dibaca: 271
Panel menu tepopuler dan terkomentar
 Berita Terpopuler
FOOTER