panel header


CRAH AGAWE BUBRAH
Bercerai Kita Runtuh
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
28 Desember 2013 | 01:30 wib
Road Map Matikan Industri Rokok

KUDUS, suaramerdeka.com - Road map industri hasil tembakau (IHT) 2007 - 2020 dinilai merupakan sinyal awal kematian industri rokok khususnya jenis keretek. Upaya memasukkan variabel kesehatan dalam kebijakan cukai, dianggap mengesampingkan kontribusi sektor tersebut kepada masyarakat dan pemerintah selama ini.

Corporate Communication Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Hasan Aoni Aziz, mengemukakan hal tersebut kepada Suara Merdeka, kemarin. Dia menilai semangat atau spirit road map seakan ingin melemahkan industri rokok. ''Padahal, banyak sekali warga yang masih sangat tergantung dari industri tersebut,'' ungkapnya.

Dia menilai pijakan hukum road map perlu dikaji ulang. Bahkan, dia menilai tidak ada pijakan hukum yang jelas terkait hal tersebut. Pembatasan seperti untuk tahun 2007 – 2010 diprioritaskan untuk tenaga kerja, penerimaan negara, dan kesehatan, dan 2010 – 2015 meliputi aspek penerimaan negara, kesehatan, dan tenaga kerja, serta 2015 – 2020 pada aspek  kesehatan, penerimaan negara, dan tenaga kerja, juga tidak tepat. ''Hal tersebut sarat kepentingan asing,'' katanya.

Salah satu yang disasar menurutnya yakni industri rokok keretek. Bagi sebagian negara asing, produk tersebut dianggap saingan terberat rokok mereka. Pasalnya, mereka tidak mempunyai jenis seperti itu. ''Kami mendesak agar road map ditiadakan,'' tegasnya.

Sebelumnya, Ketua Formasi, Ahmad Guntur menyatakan road map industri hasil tembakau 2007 - 2020 dalam beberapa sisi dianggap sulit dilaksanakan. Pasalnya, hal itu menyangkut investasi dengan jumlah yang cukup besar. Menurutnya, bisnis rokok diakui atau tidak menyedot investasi yang cukup besar.

Hal tersebut ditunjukkan dengan pembangunan sejumlah pabrik berukuran besar, menengah dan kecil. Menurutnya, bagaimana dapat berkembang bila pada akhirnya jumlah produksi rokok dibatasi. Kondisi tersebut dianggap akan mengancam kelangsungan pekerja secara langsung.

''Kalau produksinya terbatas, bagaimana dengan penghasilan pekerja,'' tandasnya.

Situasi tersebut diperparah dengan desakan regulasi yang sejak awal selalu memojokkan industri hasil tembakau. Diakui atau tidak, RPP juga akan menjadi salah satu penyebab mengapa industri rokok semakin terdesak.

( Anton WH / CN39 / SMNetwork )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share

Baca Juga


Panel menu
Berita Terbaru
29 Juli 2014 | 19:30 wib
Dibaca: 101
29 Juli 2014 | 19:15 wib
Dibaca: 99
29 Juli 2014 | 19:00 wib
Dibaca: 115
29 Juli 2014 | 18:45 wib
Dibaca: 156
image
29 Juli 2014 | 18:30 wib
Dibaca: 149
Panel menu tepopuler dan terkomentar
 Berita Terpopuler
FOOTER