panel header


NABOK NYILIH TANGAN
Memanfaatkan Orang Untuk Melakukan Sesuatu
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
09 Oktober 2013 | 16:56 wib
Sengketa Tanah, Pegawai PT KAI Bentrok dengan Polisi

BANDUNG, suaramerdeka.com - Dua aparatur negara, pegawai PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan personel Polri terlibat bentrokan dalam eksekusi tanah seluas 1,3 hektare yang diakui sebagai milik negara oleh jurusita pengadilan negeri di Jalan Elang Bandung, Rabu (9/10).

Polisi dari Polrestabes Bandung berhasil memukul mundur pegawai PT KAI setelah menggunakan pentungan dan kendaraan water canon. Sebelumnya, perlawanan sengit diberikan pegawai termasuk Polsuska operator plat merah itu, saat eksekusi akan dilakukan.

BUMN transportasi itu mengerahkan sekitar 500 pegawainya. Tampak di antara mereka Direktur Keselamatan dan Keamanan PT KAI sekaligus Komandan Polsuska, Rono Pradipto, jajaran vice president salah satunya VP Aset Wilayah Barat Mateta Rijalulhaq dan manager.  

Sebelumnya, bentrok terjadi dua kali sekitar Pukul 09.00 Wib. Pertama saat akan dibacakan surat penetapan. Rangsekan keduanya langsung membuat suasana panas sedangkan yang kedua petugas dibantu peralatan membuat pegawai PT KAI kelabakan dan memilih bertahan di Wisma Transit.

Mereka memalangkan besi rangka jembatan dan rel bekas di Jalan Elang untuk menghambat. "Tiga rekan kami terluka di antaranya di bagian mata, satu Polsuska kemungkinan gegar otak," jelas Jubir PT KAI Daop II Bandung, Jaka Jakarsih. Seorang polisi tampak terluka di bagian mulutnya.

Eksekusi kemudian dilakukan. Truk-truk pengambil barang disusul beckhoe memasuki lokasi menjelang tengah hari. Sebelumnya, PT KAI meminta eksekusi terhadap 14 rumah dinas mereka itu ditunda. Debat pun terjadi usai bentrok terjadi. Juru sita PN Bandung, Nandang Sunandar menegaskan tetap mengeksekusi karena putusan sudah inkrach.

Putusan itu dimenangkan 33 ahli waris Soehe alias Oehe yang dikepalai Odas. Kuasa hukum mereka Dose Hudaya menyatakan mediasi sudah dilakukan. "Lagi pula objek lahan sengketa sekitar 80 persennya bukan dikuasi PT KAI, tapi pengusaha," katanya di lokasi.

PT KAI mempunyai alasan mempertahankan asetnya. Ke-33 orang yang mengaku sebagai ahli waris itu menguasai aset mereka dengan bermodal segel bernada meragukan di antaranya dengan memuat keterangan penggunaan mata uang "roepia" pada 1932 dan 1934 yang disebut sebagai masa mata uang gulden.

Dalam praperadilan terkait segel tersebut, PT KAI dimenangkan. Ditambahkan, penyegelan tanah negara pun tidak mudah karena perlu pengesahan Menkeu. Karena itu, mereka menduga ada pihak yang bermain dalam kasus tersebut. Pegawai PT KAI kemudian membubarkan diri selepas tengah hari. "Kami akan tempuh proses selanjutnya dari praperadilan itu. Kami bertahan terus pun sepertinya percuma. Tapi dengan aksi ini setidaknya publik tahu bahwa kami  mempertahankan aset negara," kata Rono Pradipto.

( Setiady Dwi / CN34 / SMNetwork )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share

Baca Juga


Panel menu
Berita Terbaru
image
27 Juli 2014 | 01:55 wib
Dibaca: 67
27 Juli 2014 | 01:40 wib
Dibaca: 117
27 Juli 2014 | 01:25 wib
Dibaca: 215
27 Juli 2014 | 01:11 wib
Dibaca: 161
Panel menu tepopuler dan terkomentar
 Berita Terpopuler
FOOTER