panel header


AMBEG PRAMA ARTA
Memberikan Prioritas Pada Hal-hal Yang Mulia
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
15 Agustus 2013 | 18:30 wib
Hakim Setyabudi Terima Dollar Hingga Hiburan Organ Tunggal

BANDUNG, suaramerdeka.com - Hakim yang tertangkap tangan menerima suap, Setyabudi Tejocahyono (56) ternyata menerima pula pemberian uang dalam bentuk US Dollar hingga hiburan organ tunggal agar Walikota Dada Rosada tak dikaitkan dalam putusan perkara penyimpangan dana bansos Kota Bandung 2009/2010. 

Hal tersebut terungkap dalam sidang perdana Setyabudi Tejocahyono yang mulai digelar Pengadilan Tipikor Bandung, Kamis (15/8). Sejumlah dakwaan disematkan padanya merujuk atas perannya dalam kasus suap tersebut. 

Jaksa KPK yang membacakan materi dakwaan bergantian menjerat terdakwa dengan pasal menerima hadiah terkait jabatannya di antaranya seperti diatur pasal 12 huruf c, pasal 6 ayat 1, dan pasal 11, kemudian memberikan janji seperti diatur pasal 6 ayat 1, pasal 5 ayat 1 dan 2, pasal 12 huruf a, dan pasal 12 huruf b.   
 
KPK menyebutkan jumlah uang yang diterima Setyabudi keseluruhan mencapai Rp 1,8 miliar berikut 160 Ribu US Dollar. Sebelumnya, terdakwa meminta Rp 3 miliar melalui orang kepercayaan Dada, Toto Hutagalung. Uang tersebut sebagian besar diterima secara bertahap oleh terdakwa di banyak tempat mulai Hotel Grand Serela, Villa Ujungberung, Coffe Shop, Kantor PN Bandung, hingga Rumah Dinas Wakil Ketua PN Bandung yang ditempati Setyabudi.

Sebagai ketua majelis hakim, dia kemudian menjatuhkan vonis 1 tahun dan denda masing Rp 50 juta subsider 1 bulan kepada tujuh terdakwa kasus bansos yakni Rochman, Firman Himawan, Lutfhan Barkah, Yanos Septiadi, Uus Ruslan, Havid Kurnia, dan Akhmad Mulyana yang merupakan PNS Pemkot.

"Terdakwa juga menyatakan Dada Rosada, Edi Siswadi (mantan Sekda Kota Bandung), dan Herry Nurhayat (Plt Kepala Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah) tidak terbukti turut serta melakukan tindak pidana korupsi bersama para terdakwa," jelas jaksa Ali Fikri.

Tak hanya itu, Setyabudi juga disebutkan mengurus pengamanan perkara yang diputusnya hingga tingkat banding. Atas pengurusan perkara tersebut, sejumlah uang mengalir kembali ke terdakwa. Totalnya, mencapai Rp 1,1 miliar yang digunakan untuk kepentingan banding.

Sebelumnya, terdakwa disebut menyampaikan permintaan uang Sareh sebesar Rp 1,5 miliar. Hanya saja, penyerahannya melalui satu pintu melalui dirinya. Dari jumlah itu, sebesar Rp 10 juta di antaranya digunakan Setyabudi untuk kepentingan acara pernikahan anaknya di Bali. Setyabudi kemudian ditangkap petugas KPK tak lama setelah menerima uang Rp 150 juta di ruangan kerjanya sebagai Waka PN Bandung, Maret lalu, dimana sebelumnya, terdakwa menghubungi Toto agar sisa imbalan segera diberikan.

Atas dakwaan itu, Setyabudi mengajukan keberatan pada persidangan pekan depan. Sebelum sidang ditutup, kubunya meminta agar rekening gajinya tidak diblokir. "Kami memohon rekening penghasilan sebagai hakim bisa dibuka. Untuk itu, kami ajukan surat," kata kuasa hukum Setyabudi, Joko Sriwidodo.

Selain Setyabudi, Pengadilan Tipikor juga menggelar persidangan kasus serupa dengan terdakwa yang berkaitan yakni Herry Nurhayat, Toto Hutagalung, dan Asep Triana (kurir). Persidangan menarik perhatian banyak orang sehingga memenuhi ruang utama.

( Setiady Dwi / CN38 / SMNetwork )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share

Baca Juga


Panel menu
Berita Terbaru
05 September 2014 | 23:56 wib
Dibaca: 220205
05 September 2014 | 23:45 wib
Dibaca: 237328
05 September 2014 | 23:30 wib
Dibaca: 238327
image
05 September 2014 | 23:15 wib
Dibaca: 258046
05 September 2014 | 23:00 wib
Dibaca: 239370
Panel menu tepopuler dan terkomentar
 Berita Terpopuler
FOOTER