panel header


NGUYAHI BANYU SEGARA
Melakukan Hal yang Sia-Sia
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
26 Juni 2013 | 00:40 wib
Kasus Asap Bisa Tingkatkan Posisi Tawar RI

JAKARTA, suaramerdeka.com - Persoalan asap bisa dijadikan oleh Indonesia untuk mendapatkan posisi tawar yang lebih tinggi terhadap Malaysia dan Singapura. Sebab, perekonomian kedua negara bisa kolaps dalam waktu dua sampai tiga hari bila Indonesia tidak melakukan upaya apapun untuk memadamkan api yang masih berkobar di sejumlah titik di Riau.

“Malaysia dan Singapura bisa kolaps jika kita tidak melakukan upaya apapun. Untuk itu, Indonesia bisa ‘menekan’ kedua negara itu untuk ikut bersama-sama membantu menanggulangi,” kata pakar hukum internasional Hikmahanto Juwana, Selasa (25/6).

Menurutnya, selama ini kedua negara tersebut diuntungkan dengan banyaknya hutan yang ada di Indonesia. Akibatnya, mereka mendapatkan oksigen gratis dari hutan-hutan yang menjadi paru-paru bagi sejumlah negara ASEAN. “Selama ini mereka mendapatka oksigen secara cuma-cuma. Tapi mengapa saat ada asap, mereka tidak mau membantu Indonesia? Bantu dong, jangan hanya teriak dan tidak melakukan apa-apa,” ujarnya.

Oleh karena itu, maka Indonesia harus segera meratifikasi konvensi ASEAN tentang asap. Sebab bila sudah diratifikasi, maka persoalan asap bukan lagi menjadi masalah Indonesia, melainkan masalah yang harus diselesaikan bersama di tingkat ASEAN. “Malaysia dan Singapura sudah merasakan bagaimana kabut asap yang ditimbulkan. Oleh karena itu, kedua negara tersebut juga harus sadar dan mau membantu peralatan dan sebagainya. Apalagi, yang terkena dampak bukan hanya Indonesia,” tandasnya.

Selain itu, sudah seharusnya bila Malaysia dan Singapura ikut peduli dengan persoalan asap. Sehingga, bila kejadian serupa kembali terjadi, mereka juga dengan cepat ikut menanggulanginya. Hanya saja, koordinasinya harus di tangan Indonesia. Dalam kesempatan itu, dia menilai wajar permintaan maaf yang disampaikan secara terbuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada kedua negara. Sebab bila tidak dilakukan, maka Malaysia dan Singapura bisa menggugat Indonesia.

“Dengan adanya permintaan maaf itu, Indonesia terbebas dari gugatan. Selain itu, SBY mungkin menganggap bahwa asap tersebut mengganggu kehidupan warga negara Malaysia dan Singapura,” imbuhnya.

Menurutnya, permintaan maaf itu muncul sebagai bentuk tanggung jawab SBY menanggapi komentar salah satu pembantunya yang mengatakan Malaysia bersikap kekanak-kanakan dalam menghadapi persoalan asap. Namun alangkah baiknya bila permintaan maaf itu ditindaklanjuti dengan upaya bersama untuk menangani persoalan asap.

Terpisah, anggota Komisi I DPR Tjahjo Kumolo menilai, terjadinya kebakaran dan kabut asap disebabkan oleh lalainya pengawasan di negeri ini. Selain itu, pemerintah tidak cepat mengantisipasinya. “Akibatnya, muncullah protes dari kedua negara tersebut. Sebab, mereka merasa terganggu akibat kabut asap yang ditimbulkan oleh kebakaran di Indonesia,” tegasnya.

( Saktia Andri Susilo / CN34 / SMNetwork )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share

Baca Juga


Panel menu
Berita Terbaru
05 September 2014 | 23:56 wib
Dibaca: 3935
05 September 2014 | 23:45 wib
Dibaca: 4282
05 September 2014 | 23:30 wib
Dibaca: 4127
image
05 September 2014 | 23:15 wib
Dibaca: 5308
05 September 2014 | 23:00 wib
Dibaca: 3948
Panel menu tepopuler dan terkomentar
 Berita Terpopuler
05 September 2014 | 23:15 wib
05 September 2014 | 23:45 wib
05 September 2014 | 23:30 wib
05 September 2014 | 23:00 wib
FOOTER