panel header


AMBEG PRAMA ARTA
Memberikan Prioritas Pada Hal-hal Yang Mulia
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
21 Juni 2013 | 16:40 wib
Dampak Kenaikan BBM, Tarif BST Ikut Naik

SOLO, suaramerdeka.com - Skenario perubahan tarif angkutan umum Batik Solo Trans (BST) sudah dibuat Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kota Surakarta jelang rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Jika saat ini tarif penumpang umum Rp 3.000, kemungkinan besar tarifnya dinaikan menjadi Rp 3.500. Sementara tarif pelajar naik Rp 500 dari semula Rp 2.500 menjadi Rp 3.000.

Kepala Bidang Lalu Lintas Dishubkominfo Kota Surakarta Sri Indarjo menuturkan, skenario itu akan berlaku bila pemerintah jadi menaikan harga BBM. Skenario kenaikan tarif BST itu sudah disampaikan kepada Wali Kota FX Hadi Rudyatmo tinggal menunggu disetujui.

"Sudah kami ajukan ke walikota, tinggal menunggu SK (surat keputusan) walikota. Jadi tarif BST dipastikan naik," tegasnya, Jumat (21/6).

Indarjo menegaskan, kenaikan tarif BST tidak bisa pungkiri karena biaya operasional bus paling besar dikeluarkan untuk pembelian BBM. Kendati demikian, kenaikan tarif BST ini dijamin tidak akan menurunkan minat pelanggan bus jenis rapid transit ini.

Seperti diketahui, Kota Solo sudah memiliki satu koridor BST yang melayani penumpang dari Bandara Adi Soemarmo- Jalan Slamet Riyadi-Terminal Tirtonadi-Palur pulang pergi. Pada 2014, Pemkot mengembangkan empat koridor lagi yang akan melayani penumpang di seluruh penjoro Kota Solo.

Sementara itu pengamat transportasi Unika Soegijapranata Semarang, Joko Setidjowarno saat ditemui wartawan di kantor Dishubkomindo menyatakan, penolakannya bila transportasi umum semacam BST dinaikan tarifnya. Ia memilih mendukung angkutan umum mendapatkan subsidi yang lebih atau bahkan digratiskan. Bila tarif bus dan anguktan umum lainnya naik, ia khawatir masyarakat akan beralih ke kendaraan roda dua.

"Selain BST sepi penumpang, jalan raya makin padat kendaraan roda dua karena masyarakat tidak sudi naik kendaraan umum yang tarifnya melonjak. Bila kendaraan roda dua semkain banyak maka besar kemungkinan kecelakaan lalu lintas akan meningkat," tegasnya.

Ia mendesak pemkot dan pemprov mengajukan tambahan anggaran ke Pemerintah Pusat agar tarif angkutan umum mendapatkan subsidi. Hal lain yang mendesak adalah pemilik perusahaan otobos agar segera berbadan hukum, sehingga ke depan bisa mendapatkan subsidi dari pemerintah.

( Budi Sarmun S / CN38 / SMNetwork )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share

Baca Juga


Panel menu
Berita Terbaru
05 September 2014 | 23:56 wib
Dibaca: 5353
05 September 2014 | 23:45 wib
Dibaca: 5969
05 September 2014 | 23:30 wib
Dibaca: 5759
image
05 September 2014 | 23:15 wib
Dibaca: 7229
05 September 2014 | 23:00 wib
Dibaca: 5547
Panel menu tepopuler dan terkomentar
 Berita Terpopuler
05 September 2014 | 23:15 wib
05 September 2014 | 23:45 wib
05 September 2014 | 23:30 wib
05 September 2014 | 23:00 wib
FOOTER