panel header


ALON ALON WATON KELAKON
Pelan Pelan Saja Asal Berhasil
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
27 Desember 2012 | 23:52 wib
Generasi Muda Tinggalkan Nilai Budaya Jawa
.
"Jika revitalisasi membuat vital kembali dari sesuatu yang terdegradasi, maka fokusnya pada rasa tersebut. Strateginya perlu mendesain kembali pendidikan budi pekerti dalam upaya menghaluskan rasa agar semakin banyak orang Jawa mencapai keseimbangan"
--- Hendro Basuki

SEMARANG, suaramerdeka.com - Nilai-nilai budaya Jawa saat ini mulai meluntur di kalangan generasi muda. Mereka kini memilih cenderung kebarat-baratan dengan meninggalkan tata nilai yang selama ini dijadikan landasan kehidupan.

Sosok kejawaan yang lebih mengedepankan rasa, kepekaan, dan kesantunan tampaknya sudah mulai hilang. Karenanya, semangat mengedepankan nilai budaya Jawa sekarang ini perlu digairahkan kembali.

Budayawan Prof Eko Budihardjo menyatakan, masyarakat Jawa ini memiliki karakter berbeda dari orang mancanegara yang bertindak dengan mengedepankan rasio, pikiran, nalar, atau otak. Dulu, orang Jawa bisa membudayakan kearifan lokal. Mereka bisa sebegitu hormat kepada orang tua, namun kini tata nilai tersebut sudah mulai ditinggalkan.

"Rasa, kepekaan, dan kesantunan sudah tidak tampak lagi. Pelajar SMA atau bahkan SMP melakukan tawuran dengan lempar-lemparan batu," katanya dalam Dialog Budaya di kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jateng, Kamis (27/12).

Selain Eko, dialog bertemakan "Revitalisasi Nilai-nilai Budaya Jawa" ini menghadirkan narasumber Kepala Bidang Nilai Budaya Seni dan Film (NBSF) Disbudpar Jateng, Budiyanto, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jateng Hendro Basuki, dan seniman Solo yang bergiat di Padepokan Lemah Putih Surakarta Prapto Soeryadarma.

Mantan Rektor Undip Semarang itu menyebutkan, orang Jawa dulu juga sebegitu hormatnya kepada orang tua tetapi kondisinya saat ini berbalik 180 derajat.

Bahkan, banyak anak berani dengan orang tua, terdapat pula kasus seorang ibu yang dibunuh anaknya. Kondisi demikian tidak bisa dibenarkan sehingga pendidikan memiliki peranan penting untuk membangun anak berkualitas dan beradap.

Sementara Hendro Basuki menyatakan, setiap manusia Jawa harus sadar kosmis, yaitu memiliki kemampuan membuka perasaan batin yang disebut sebagai rasa. Adapun, ekspresi rasa yang halus adalah kejujuran, kesediaan menolong, keadilan, dan semua tindakan atau perilaku positif.
 
"Jika revitalisasi membuat vital kembali dari sesuatu yang terdegradasi, maka fokusnya pada rasa tersebut. Strateginya perlu mendesain kembali pendidikan budi pekerti dalam upaya menghaluskan rasa agar semakin banyak orang Jawa mencapai keseimbangan," tandasnya.

Dalam hal ini, diperlukan pula kesadaran orang tua untuk bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya.

Juga, Budiyanto menilai budaya Jawa itu adiluhung karena bisa menjadi tuntunan, tontonan, dan tatanan. Disbudpar akan berupaya membangun Jateng menjadi pusat budaya Jawa. Hingga kini, banyak masyarakat luar negeri seperti dari Jepang yang belajar budaya Jawa ke Jateng. Namun, ironisnya generasi muda justru kurang berminta untuk mempelajarinya.

( Royce Wijaya / CN15 / JBSM )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share

Baca Juga


Panel menu
Berita Terbaru
Index Berita
image
30 Agustus 2014 | 03:20 wib
Dibaca: 12
30 Agustus 2014 | 03:05 wib
Dibaca: 162
30 Agustus 2014 | 02:50 wib
Dibaca: 236
30 Agustus 2014 | 02:37 wib
Dibaca: 198
30 Agustus 2014 | 02:24 wib
Dibaca: 224
Panel menu tepopuler dan terkomentar
 Berita Terpopuler
12 Agustus 2014 | 16:20 wib
14 Agustus 2014 | 15:50 wib
19 Agustus 2014 | 21:05 wib
15 Agustus 2014 | 15:18 wib
FOOTER