
TERBAKAR: Hutan Gunung Sindoro yang berada di Kabupaten Temanggung, atau tepatnya di petak 10b, Resor Pemangku Hutan (RPH), Kwadungan, Badan Kesatuan Pemangku Hutan (BKPH), Temanggung, Minggu (23/9) malam terbakar. (suaramerdeka.com/Ra
TEMANGGUNG, suaramerdeka.com - Kebakaran hebat kembali melanda kawasan hutan di Gunung Sindoro yang masuk wilayah Kabupaten Temanggung, Minggu (23/9) petang.
Yusuf (26), warga Dusun Bebengan, Desa Wanutengah mengaku kali pertama melihat titik api sekitar pukul 17.30. Api terlihat di sisi selatan, dan terus membesar membentuk garis panjang ke arah bawah.
Administratur Perhutani Kesatuan Pemangku Hutan (KPH), Kedu Utara, Iwan Setyawan mengatakan, lokasi kebakaran berada di petak 10b, Resor Pemangku Hutan (RPH) Kwadungan, atau tepatnya masuk Desa Pabringan. Kendati demikian dia belum bisa menyebutkan luasan lahan yang terbakar.
Hal senada dikatakan, Asisten Perhutani Bagian kesatuan pemangku hutan (BKPH) Temanggung Juni Junaedi. Dikatakan, menjelang malan api terlihat semakin membesar dan terus membakar hutan lindung Gunung Sindoro.
"Petugas belum bisa memadamkan dengan pertimbangan keselamatan dan medan yang sulit dijangkau. Kami bersama masyarakat desa hutan, petugas, kepolisian dan TNI serta sejumlah elemen pencinta alam telah berkumpul di pos dusun Pabringan, yakni dusun terdekat dengan kebakaran," katanya.
Kendati demikian, untuk sementara mereka lebih banyak memantau pergerakkan api, dan direncanakan baru akan naik untuk pemadaman esok hari, dengan pertimbangan keamanan.
Dikemukakan, belum diketahui penyebab kebakaran, perkiraan sementara adalah keteledoran manusia, seperti pembuatan arang atau pelemparan puntung rokok.
"Atau, bisa juga akibat pemadaman api yang tidak sempurna dari petak terdekat. Yaitu bara api merambat lewat bawah tanah pada batang yang terbakar di petak terdekat yang terbakar," imbuhnya.
Disampaikan, api terus membesar dan dapat dilihat dari bawah. Ini disebabkan angin berhempus cukup kencang. Sedangkan kawasan petak 10 yang sebagian besar merupakan alang ilalang kering sangat mudah terbakar.
Juni berharap, terjadi udara lembab di malam hari, atau ada perubahan arah angin sehingga api secara alamiah padam atau setidaknya tidak menjalalar.
Sementara pantauan Suaramerdeka.com dari kawasan Parakan, Ngadirejo, hingga pukul 22.45, api masih terlihat membara dari kawasan atas Sindoro.
( Raditia Yoni Ariya / CN32 / JBSM )