
KUMBOKARNO: Layang-layang berbentuk tokoh wayang Kumbokarno ukuran raksasa yang siap ditarik untuk mengangkasa. (suaramerdeka.com / Joko Dwi Hastanto)
KARANGANYAR, suaramerdeka.com - Kreatif dan indah. Itulah yang bisa diapresiasikan untuk para pelayang atau para penghobi layang-layang nasional. Mereka berkumpul di Waduk Lalung, Karanganyar, menggelar festival layang-layang tingkat nasional.
Even itu digelar setelah Karanganyar menjuarai festival layang-layang tingkat nasional di Tulungagung pada bulan Juli lalu, para pelayang asal Karanganyar yang tergabung dalam Paguyuban Seni Pelangi Lawu ganti menggelar Festival Layang-Layang Tingkat Nasional yang bertempat di Waduk Lalung, Karanganyar, Minggu (9/9).
Aneka layang-layang berterbangan ke angkasa, meski agak sedikit tersendat karena angin yang hanya bertiup sepoi-sepoi. Padahal harapannya angin bertiup kencang, sehingga layang-layang yang ukurannya sangat besar bisa terbang dengan mantab.
Layang-layang berbentuk wayang Kumbokarno, ondhel-ondhel, burung garuda, raksasa, dan lainya saling bersaing terlihat indah di angkasa. Para warga yang menyaksikan juga dibuat gembira, karena selama hidup tidak pernah menyaksikan layang-layang raksasa tersebut.
Ketua Panitia Heri Suyanto menjelaskan. festival layang-layang tersebut diikuti oleh sebanyak 30 tim pelayang dari seluruh Indonesia. Mereka berasal dari 24 daerah berbeda. Selain dari daerah-daerah yang ada di Pulau Jawa, festival ini juga diikuti oleh pelayang dari luar Jawa seperti dari Kepulauan Riau dan Papua.
Masing-masing akan beradu mendapatkan juara, yang terbagi atas lima kategori lomba. Yaitu kategori Aduan, Bapangan Tradisional, Layang-layang dua dimensi, Layang-layang tiga dimensi, dan Train Naga. “Untuk bapangan tradisional, layang-layang yang menonjolkan ciri khas daerahnya masing-masing yang dinilai, sedangkan train naga itu berupa kereta naga yang panjangnya bisa mencapai 100-150 meter,” tambah Heri.
Terkait penilaian dalam setiap kategori yang dilombakan, dia menjelaskan ada tiga kriteria yang menjadi penilaian. Yakni kesulitan pembuatan layang-layang, kehalusan pembuatan, serta terbangnya layang-layang tersebut.
( Joko Dwi Hastanto / CN26 / JBSM )