panel header


KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK
Banyak Pengeluaran, Kurang Penghasilan
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
31 Agustus 2012 | 11:37 wib
Potensi Air Hanya 35 Persen
Kekeringan, Indonesia Defisit Air

 

JAKARTA, suaramerdeka.com - Kekeringan yang menyebabkan krisis air, semakin meningkat. Bahkan secara global, satu dari empat orang di dunia kekurangan air minum. Sementara, satu dari tiga orang tidak dapat  sanitasi yang layak. Demikian pula di Indonesia.

"Sebab pada saat musim kemarau, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara sudah mengalami defisit air sejak 1995," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho, Jumat (31/8).

Menurutnya, defisit air terjadi selama tujuh bulan pada musim kemarau. Sedangkan surplus air berlangsung lima bulan pada saat saat penghujan. "Pada tahun tahun 2020, potensi air yang ada di Indonesia diproyeksikan hanya 35% yang layak dikelola. Yaitu 400 m3/kapit tahun. Angka ini jauh dari standar minimum dunia, yakni 1.100 m3/kapita/tahun," jelasnya.

Dikatakan, sejak tahun 2003 terdapat 77% kabupaten/kota di Jawa yang memiliki defisit air selama 1-8 bulan dalam setahun. Sedangkan sebanyak 36 kabupaten/kota defisit air 5-8 bulan dalam setahun. "Jadi bukan hal yang aneh jika saat ini terjadi dampak kekeringan, khususnya di Jawa. Distribusi air, hujan buatan, pemboran sumur adalah solusi singkat yang belum mengatasi masalah dengan tuntas," ucapnya.

Besar-besaran Menurutnya, masih diperlukan upaya penyediaan air secara besar-besaran. Pembangunan waduk, bendung, embung, dan pengelolaan DAS dapat mengatasi masalah yang ada. "Namun hal ini perlu dukungan politik, dana dan partisipasi masyarakat yang besar. Sebab, pembangunan waduk besar saat ini sulit dilakukan di Jawa," imbuhnya.

Terlebih lagi dengan adanya penurunan hujan di masa mendatang, meningkatnya pencemaran air, kerusakan lingkungan dan bertambahnya penduduk. "Hal itu akan makin membuat berat penyediaan air di Jawa. Partisipasi masyarakat perlu didorong melalui ekonomi kerakyatan, yang langsung memberikan peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat," tuturnya.

Selain itu, perlu adanya pembangunan embung dan waduk kecil di sungai-sungai di banyak tempat. Upaya tersebut bisa mengatasi kekeringan rutin tiap tahun.  Jika tidak, maka yang ada adalah kekeringan berkelanjutan. Pada abad 21, air akan menjadi masalah besar dunia.

( Saktia Andri Susilo / CN27 / JBSM )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share

Baca Juga


Panel menu
Berita Terbaru
05 September 2014 | 23:56 wib
Dibaca: 25677
05 September 2014 | 23:45 wib
Dibaca: 27346
05 September 2014 | 23:30 wib
Dibaca: 27050
image
05 September 2014 | 23:15 wib
Dibaca: 30498
05 September 2014 | 23:00 wib
Dibaca: 26295
Panel menu tepopuler dan terkomentar
 Berita Terpopuler
FOOTER