
SEMARANG, suaramerdeka.com -
Tudingan soal partai ini disikapi serius oleh Ketua Panitia Musda Dekase, Listiyani Widyaningsih. Sebab salah satu orang yang dituding membawa kepentingan partai adalah Listiyani sendiri. Meski mengakui menjabat sebagai Sekretaris Dewan Etik DPD Partai Gerindra Jateng, Listiyani membantah dirinya membawa agenda tersembunyi. "Di dewan etik tugas saya menghukum pelanggar etika dan aturan, masak saya melanggar etika sendiri. Tidak lah," katanya, Rabu (22/8).
Advokat yang berkantor di LKBH Satria itu mengungkapkan, dirinya memperoleh mandat sebagai ketua panitia berdasarkan keputusan musda luar biasa yang digelar di TBRS, Minggu (29/7). Dia menerima karena ingin menyumbangkan pikiran dan tenaga untuk kesenian. Untuk menghindari tudingan negatif, dia tidak mengedarkan proposal ke beberapa pihak. Seluruh dana penyelenggaraan musda dia rogoh dari kantong pribadi.
"Saya ingin tunjukkan bahwa saya yang hanya pemerhati seni saja mau berbuat untuk Dekase, seharusnya teman-teman seniman bisa melakukan lebih," katanya.
Dijelaskan, meski waktu persiapan singkat dan dipotong libur lebaran, namun anggota panitia berusaha memenuhi amanat musdalub untuk menggelar acara maksimal akhir Agustus. Permasalahan muncul pada daftar pihak mana saja yang memperoleh hak suara dalam musda. Sebab aturan dalam AD ART Dekase masih rancu.
Panitia harus menyusun daftar baru yang mengakomodir kelompok-kelompok kesenian yang sebelumnya belum masuk. Untuk itu panitia melibatkan para camat untuk mendata kelompok kesenian di wilayahnya. "Kelompok kesenian di kecamatan-kecamatan itu banyak, selama ini mereka tidak dilibatkan jadi seolah-olah tidak peduli dengan Dekase," jelasnya.
( Anton Sudibyo / CN27 / JBSM )