
BANJARNEGARA, suaramerdeka.com - Direktur Utama Perusahaan Daerah (PD) Bank Perkreditan Rakyat Badan Kredit Kecamatan BPR BKK) Mandiraja Banjarnegara, Sri Hayati, layak berbangga hati. Pasalnya, pekan lalu menerima trophy dan piagam Gubernur Jawa Tengah pada upacara Peringatan Hari Jadi Ke-62 Provinsi Jawa Tengah.
BPR BKK yang dipimpinnya meraih prestasi sebagai PD BPR BKK Terbaik Kedua se-Jawa Tengah. Trophy dan Piagam yang diserahkan langsung oleh Gubernur Bibit Waluyo ini adalah bentuk penghargaan kepada para pengelola PD BPR BKK se-Jawa Tengah, yang telah menunjukkan prestasi terbaik dalam berperan aktif mendukung visi misi Jawa Tengah.
Penetapan nominatif PD BPR BKK terbaik didasarkan pada penilaian atas empat kriteria yaitu kesesuaian dengan tujuan pendirian PD BPR BKK, Tingkat Kesehatan Bank, kemanfaatan dan ketaatan, serta penilaian hasil audit.
“Tim penilai merupakan gabungan dari Pembina PD BPR BKK, akademisi dan praktisi bidang keuangan dan perbankan. Mekanisme penilaiannya cukup jelas, mulai dari melakukan input data PD BPR BKK se-Jawa Tengah ke dalam indikator-indikator. Setelah seluruh data ter-input, tim melakukan validasi data dan melakukan penilaian serta penetapan ranking PD BPR BKK dari nilai tertinggi hingga terendah,” jelas Sri Hayati, Selasa (21/8).
Kegiatan yang bertujuan mendorong peningkatan kinerja PD BPR BKK ini, makin menguatkan tekad Sri Hayati untuk mencapai prestasi dan capain tertinggi dibidangnya. “Target kami, tahun depan kami berada pada tempat terbaik pertama,” ujar Sri optimis.
“Untuk itu, pembenahan internal dan eksternal terus kami lakukan. Kualitas sumber daya manusia kami prioritaskan dalam urutan pertama untuk ditingkatkan salah satunya melalui penilaian kinerja individu. Kami juga selalu berusaha taat dan mengikuti semua regulasi dari peraturan daerah maupun ketentuan dari Bank Indonesia,” kata Sri Hayati.
Tak kalah penting, lanjut Sri, adalah gaya kepemimpinan situasional yang ia terapkan pada seluruh jajaran manajemen dan pegawai PD BPR BKK Mandiraja. ”Gaya ketiga yaitu partisipatif ditujukan untuk staf yang mampu namun cenderung tidak mau bertanggung jawab atau bekerja. Tipe ini kami manfaatkan untuk sumbangsih ide serta gagasan. Gaya terakhir yaitu delegasi, kami terapkan pada staf yang mau dan mampu serta sudah mumpuni,” ujar Sri.
( Ryan Rachman / CN34 / JBSM )