
SOLO, suaramerdeka.com - Sejumlah warga RT 3 RW 8 Kadipiro, Banjarsari, Solo yang tinggal di dekat lokasi kejadian kebakaran gudang ban mengeluhkan sakit kepala (pening), dan sesak nafas. Warga masih mencium bau karet yang menyengat sejak empat hari lalu.
Salah seorang warga, Ismanto (40), mengaku sering pusing kepala dan mual. Rumahnya yang berdekatan dengan lokasi kejadian membuat dia tidak bisa menghindar dari asap ban yang terbakar. Padahal dia dan keluarga sedang menjalankan ibadah puasa.
"Mau tidak mau saya saya menghirup udara yang tercemari asap karet yang terbakar. Itu yang membuat kepala pusing dan mual. Sehingga saya harus pakai masker setiap hari," keluhnya,Rabu (8/8).
Dia dan istrinya Sulastri (38) meminta persoalan ini segera selesai. Pemkot didesak segera turun tangan.
Warga lain Sulistyo (38) yang rumahnya ikut terbakar pada kejadian nahaas, pada Minggu (4/8) malam, nasibnya lebih memprihatinkan. Selain mengeluhkan gangguan pernafasan, korban pun mengalami kerugian materiil Rp 60 juta. Selama empat hari bahkan hidupnya tidak teratur.
Sulistyo dan empat anggota keluarganya tidak berani tinggal di rumah karena bau karet terbakar sangat menyengat. Mereka terpaksa tidur di teras sambil menunggu bau menghilang. "Bahkan anak saya usia 4,5 tahun diungsikan agar tidak terkena polusi," imbuhnya.
Pengusaha kayu ini menyatakan dinas kesehatan dan puskesmas sampai sekarang belum turun tangan memeriksa kondisi warga sekitar. Pihaknya khawatir dampak dari kebakaran gudamjg ban berpengaruh pada kesehatan warga setempat.
( Budi Sarmun S / CN27 / JBSM )