
JEPARA, suaramerdeka.com – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara akan memberikan perhatian pada rumah adat di Karimunjawa. Wilayah rumah adat akan dikembangkan sehingga ruang terbuka hijau yang ada bisa bertambah. Hal itu disampaikan Kepala Disparbud Jepara Dwi Riyanto, siang tadi.
"Rumah ada itu berada di Desa Kemojan. Saat ini ada dua rumah adat yakni Jawa dan Bugis. Pengembangan yang akan kami lakukan masih digodok sehingga belum bisa kami sampaikan detail," ucap Dwi.
Menurut Dwi, pengembangan rumah adat, untuk masa mendatang bisa sebagai tambahan destinasi wisata yang bisa dikunjungi wisatawan. Selain itu, adanya rumah adat adalah sebagai simbol beragamnya masyarakat di Karimunjawa sehingga bisa menjadi pemersatu dari perbedaan yang ada.
"Di Karimunjawa juga ada suku Madura dan belum ada rumah adatnya. Kami juga masih mencari seperti apa bentuk asli rumah adat Madura. Karena itu, untuk penambahan rumah adat masih belum ada rencana dalam waktu dekat ini," tutur Dwi.
Dia berharap perhatian rumah adat bisa saling menopang dengan program pengembangan bandara, sehingga ketika sarana transportasi yang semakin baik bisa menunjang kunjungan semakin banyak sudah tersedia beragam objek di Karimunjawa.
"Untuk rumah adat saat ini baru dilengkapi dengan beragam perabotan yang sesuai dengan adat masing-masing. Belum ada penerima tamu dengan pakaian adat. Masih perlu inovasi lain sehingga berkunjung ke rumah adat Karimunjawa makin berkesan," jelasnya.
Terkait dengan persiapan jelang libur Lebaran, Dwi menjelaskan masyarakat lokal bersama camat sudah menyiapkan agenda Lomban. Karena itu, kata Dwi, akan ada suguhan budaya jika wisatawan berkunjung ke Karimunjawa pada saat Lomban.
"Seperti bimbingan tari yang dari provinsi itu nanti bisa ditampilkan. Tari yang berangkat dari khazanah lokal Karimunjawa. Untuk kostum tari bantuan dari provinsi juga sudah jadi. Semoga nanti tarian itu bisa ditampilkan saat acara Lomban," harap Dwi.
( Akhmad Efendi / CN26 / JBSM )