
KUDUS, suaramerdeka.com - BNI Syariah Kudus ditargetkan mampu menyalurkan kredit sebesar Rp 25 miliar sejak pembukaan awal cabang baru bulan Agustus ini hingga akhir tahun 2012.
Target ini menurut Direktur Opersaional dan Keuangan BNI Syariah, Junaidi Hisom, sangat mungkin dicapai meskipun sekarang banyak sekali perbankan yang membidik pangsa pasar sama dengan BNI Syariah, yakni usaha mikro dan kecil.
"Kami konsen pada pelayanan, sehingga kami yakin target awal tersebut dapat direalisasikan," ujar Junaidi Hisom didampingi Pimpinan Kantor Cabang BNI Syariah Kudus Muttaqiem di sela-sela Launching BNI Syariah Cabang Kudus, Jumat (3/8).
Untuk tahap awal ini, Bank BNI Syariah Cabang kudus juga menjalin kerjasama dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kudus, Real Estate Indonesia (REI), serta KBIH Muhammadiyah dan NU yang ada di Kudus. Kerjasama ini sekaligus untuk memperkenalkan produk BNI Syariah kepada masyarakat.
Selain di Kudus, Junaidi mengaku BNI Syariah tahun ini berencana membuka 23 kantor cabang baru. Dari 23 kantor cabang tersebut, meliputi 11 kantor cabang reguler dan 12 kantor cabang mikro. Selain itu, tahun ini juga berencana menambah 85 kantor cabang pembantu, meliputi 41 kantor cabang reguler dan 44 kantor cabang pembantu mikro, 9 kantor kas, dan 20 unit mobil BNI Syariah layanan gerak yang dilengkapi ATM.
"Perkembangan atas rencana tersebut sudah mencapai 90 persen dan hanya menunggu izin dari Bank Indonesia untuk beroperasi," bebernya.
Pengawas Bank Madya Senior Bank Indonesia Semarang, Untung Nugroho mengatakan, pembukaan kantor cabang BNI Syariah Kudus berarti menambah deretan pelayanan Bank Syariah di Indonesia. Hal ini menunjukkan pertumbuhan Bank syariah semakin baik.
Dia mengaku, selama 10 tahun terakhir, perbankan syariah secara nasional mengalami pertumbuhan 40 persen. Sedangkan di Jateng bank ini mengalami pertumbuhan lebih tinggi, yakni 50 persen dengan total aset sebesar Rp 8,5 triliun. Dana yang berhasil dihimpun dari masyarakat mencapai Rp 5,4 triliun dengan penyaluran pinjaman sebesar Rp 7 triliun.
( Septina Nafiyanti / CN31 / JBSM )