
JAKARTA, suaramerdeka.com – Calon presiden yang tidak diunggulkan oleh lembaga survei, berpotensi untuk menang dalam Pemilihan Presiden 2014. Hal itu disebabkan rakyat jenuh dan menginginkan perubahan.
"Saya setuju adanya anggapan bahwa capres yang tidak diunggulkan, justru berpotensi menang. Masalahnya, yang mengunggulkan adalah lembaga-lembaga survei," kata pengamat politik LIPI Indria Samego, Minggu (15/7).
Menurutnya, apa yang ditonjolkan oleh lembaga survei untuk mendongkrak popularitas pasangan capres, mudah terbaca. Untuk itu, setiap pasangan capres harus mengembangkan politik akal sehat.
"Sebab, tingkat kekritisan masyarakat terhadap agenda politik dan pemilu meningkat. Mereka terbagi dua, yaitu yang apatis dan yang tetap mau menggunakan hak pilihnya. Namun yang jelas, mereka semua menginginkan perubahan," ujarnya.
Dia menambahkan, rendahnya tingkat partisipasi pemilih dalam menggunakan haknya, menunjukkan ketidakpedulian pada proses politik.
"Untuk itu, para capres yang akan berlaga dalam Pilpres 2014 juga harus bisa meyakinkan calon pemilih. Sebab, banyak diantara mereka yang merasa tidak bersalah jika tidak menggunakan haknya,” tandas Indria.
Selain itu, katanya, banyak pula masyarakat yang beranggapan bahwa siapapun yang terpilih, tidak akan membawa perubahan. Dia juga mengakui, dinamika pemilih begitu cepat berubah dalam waktu singkat.
Dihubungi terpisah, Ketua Fraksi Partai Demokrat Nurhayati Assegaf membantah bahwa kondisi internal partai, membuat calon yang diusung partainya akan kalah. Apalagi, belum ada evaluasi untuk mengetahui penyebab kekalahan pasangan Fauzi Bowo dan Nahrowi Ramli dalam putaran pertama Pemilukada DKI.
"Apa dasarnya menyebut kekalahan itu akibat Demokrat terpuruk? Tudingan tersebut sangat tidak berdasar. Ada dinamika yang begitu cepat yang tidak terbaca oleh lembaga survei, sehingga mengubah hasil Pemilukada lalu," ucapnya.
( Saktia Andri Susilo / CN33 / JBSM )