
REMBANG, suaramerdeka.com – Sejumlah pengusaha gula tumbu di Kabupaten Rembang mengincar pasokan bahan baku tebu rendemen rendah yang gagal masuk pabrik gula. Mereka mulai membuka pabrik pengolahan gula tumbu sering datangnya musim panen tebu sejak awal Juni ini.
Sukarmani (40), perajin gula tumbu di Desa Mlagen, Kecamatan Pamotan mengatakan, hanya tebu dengan tingkat rendemen mencapai 10 yang lolos masuk pabrik gula. Di kabupaten itu, tidak semua tanaman tebu hasil panenan petani memiliki tingkat rendemen setinggi itu.
"Tebu yang rendemennya lebih rendah dari standar pabrik langsung diserap perajin gula tumbu. Sejak awal Juni ini perajin sudah mulai bergairah membuka pabrik pengolahan gula tumbunya," katanya, Minggu (10/6).
Sakijan (45), perajin gula tumbu di Desa Karangharjo, Kecamatan Sulang menambahkan, perajin kini tengah bergairah menyusul tingginya harga gula tumbu di pasaran. Harga gula tumbu di pasaran kini melonjak hingga Rp 6.500/kg. Padahal musim lalu harganya hanya berada di kisaran Rp 4.500/kg hingga Rp 5.000/kg.
Selain untuk memenuhi pasaran lokal, perajin mulai mengincar pasar di Surabaya dan Jakarta. "Harga di sana lebih menjanjikan. Gula tumbu di kedua kota itu itu biasanya digunakan untuk memasok pabrik kecap maupun bumbu masak dan industri minuman," jelasnya.
Di Kabupaten Rembang terdapat sekitar 200 perajin gula tumbu. Mereka tersebar di empat kecamatan, yakni Pamotan, Gunem, Sedan dan Sarang. Data Dinas Pertanian dan Kehutanan (Distanhut) Kabupaten Rembang menyebutkan, total produksi gula tumbu rata-rata mencapai 7.200 ton/tahun.
( Saiful Annas / CN31 / JBSM )