
JAKARTA, suaramerdeka.com - Kementerian Perdagangan meyakini tidak ada gula rafinasi yang bocor ke pasar umum. Hal ini didasari atas audit yang ketat terhadap perusahaan yang memegang izin impor gula untuk industri tersebut.
"Saya yakin seratus persen kalau tidak ada gula rafinasi yang bocor," kata Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Gunaryo usai menjadi pembicara dalam dialog tentang Pasar Tradisional di Kementerian Perdagangan, Selasa (22/5).
Gunaryo menambahkan, selain melakukan audit yang ketat, pihaknya juga akan mewajibkan pengiriman gula rafinasi ke daerah menggunakan surat jalan. Nantinya, surat jalan tersebut akan masuk menjadi bahan audit.
"Jadi, kita tahu berapa besar gula rafinasi yang dikirim ke mana dan jangan khawatir kalau gula rafinasi itu akan mengalir ke tempat lain," cetusnya.
Dia mencontohkan, jika gula rafinasi yang akan dikirim ke Papua sebanyak 10 ribu ton, gula tersebut dijamin tidak akan jatuh di daerah lain. "Kita akan usahakan langsung sampai ke kabupaten kota yang bersangkutan," tandas Gunaryo.
Adapun gula rafinasi adalah gula yang berasal dari tebu yang sudah dipisahkan dari zat-zat lainnya serta mempunyai kualitas kemurnian tinggi. Dia memaparkan, sampai April 2012 tercatat izin untuk mengimpor gula rafinasi sebanyak 240 ribu ton. "Namun, yang kita kabulkan hanya 182 ton saja," ujarnya.
Dari jumlah itu, lanjutnya, sebagian sudah digiling dan dikirim ke daerah-daerah seluruh indonesia yang bukan merupakan daerah produsen gula. Dia menyatakan pihaknya sudah mengecek ke pasar di daerah, dimana impor ini tidak mengurangi penghasilan petani.
Adapun penetapan Harga Pembelian Petani (HPP) gula tahun ini, tambahnya, sebesar Rp 8.100 per kilogram. Sementara itu, harga hasil lelang di beberapa daerah seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur malah melebihi HPP.
( Kartika Runiasari / CN27 / JBSM )