panel header


MANGAN ORA MANGAN NGUMPUL
Tetap Bersatu Meski Dalam Kemiskinan
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
21 Mei 2012 | 08:33 wib
Orang Hatuhaha Meleburkan Islam dan Adat

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Kontekstualisasi agama dan adat dalam proses konstruksi identitas Komunitas Muslim Hatuhaha (KMH) telah terjadi di negeri Pelauw, Kecamatan Pulau Haruku, Maluku, dan hal itu berlangsung hingga kini.

Orang Hatuhaha di Pelauw sejak para leluhurnya dulu sudah mengkontekstualisasi ajaran Islam dan kepercayaan lama yang tampak pada praktik adat dalam berbagai ritual harian maupun musiman komunitas setempat.

''Yang menarik dari proses kontekstualisasi ini adalah adanya relasi dialektis adat dan agama,'' tegas Yance Zadrak Rumahuru pada ujian terbuka program doktor di Sekolah Pascasarjana UGM.

Menurutnya, selama ini studi Islam di Maluku Tengah masih tergolong studi yang marjinal, berbeda dengan keberadaan Islam di Maluku Utara maupun Islam pada wilayah lain di Indonesia. Sejauh ini Islam di Maluku Tengah belum dijadikan isu penelitian seseksi Islam di Jawa, Sumatera dan Nusa Tenggara.

Sejak Islam diterima di negeri Pelauw, katanya, ajaran agama dan adat diposisikan sejajar dan tidak saling menghakimi satu dengan yang lain. Namun demikian, dalam perkembangan kemudian sebagian warga KMH di negeri Pelauw memandang perlu dilakukan pemurnian ajaran Islam dan pelaksanaan tuntutan ajaran Islam secara lebih baik. Hal itu menjadi alasan terjadi konflik internal di Pelauw tahun 1939, yang menandai terbentuknya kelompok Islam Syariah dan kelompok Islam Adat.

''Konstruksi identitas keagamaan tidak terlepas dari pengaruh kepentingan ekonomi, budaya dan politik,'' tutur dosen Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri (STAKPN) Ambon itu.

Dalam penelitiannya juga terungkap bahwa agama Islam telah menjadi kekuatan penting bagi perkembangan masyarakat dan perubahan sosial di kalangan KMH di negeri Pelauw. Perbedaan penafsiran dan praktik keagamaan kelompok syariah dan kelompok adat berdampak pada sikap keberagaman mereka.

Diakuinya, dinamika masyarakat dalam rentetan berbagai peristiwa historisnya menunjukkan bahwa keberadaan agama (Islam) telah menjadi fondasi bagi perkembangan masyarakat dan perubahan sosial di Pulau Haruku, Maluku Tengah.

( Bambang Unjianto / CN34 / JBSM )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share

Baca Juga


Panel menu
Berita Terbaru
05 September 2014 | 23:56 wib
Dibaca: 12212
05 September 2014 | 23:45 wib
Dibaca: 12926
05 September 2014 | 23:30 wib
Dibaca: 12720
image
05 September 2014 | 23:15 wib
Dibaca: 15029
05 September 2014 | 23:00 wib
Dibaca: 12296
Panel menu tepopuler dan terkomentar
 Berita Terpopuler
FOOTER