panel header


KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK
Banyak Pengeluaran, Kurang Penghasilan
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
04 Maret 2012 | 19:08 wib
Kostum Karnaval Meriahkan Haul Syeikh Abdul Qodir Jaelani

ALUNAN hadrah dan drum band terdengar sayup-sayup di kejauhan di Jalan Raya Gunungpati - Manyaran, Minggu (3/3) pagi. Barisan depan, nampak 17 anak-anak berpakaian pasukan pengibar bendera (Paskibra) membawa bendera Merah Putih. Disusul grup drum band dari SDN Branjang, Ungaran, Kabupaten Semarang, gadis-gadis cantik dengan kostum karnaval, pasukan berseragam kerajaan, serta grup rebana.

Arak-arakan pagi itu mendapat perhatian dari warga maupun pengguna jalan setelah memulai start dari dari halaman Masjid At Taqwa menuju Pondok Pesantren Sunan Gunung Jati Ba'alawy di Dusun Malon, Kelurahan Gunungpati sejauh 3 kilometer.

Arak-arakan itu sengaja digelar untuk memeriahkan rangkaian Haul Akbar Syeh Abdul Qodir al Jaelani, Syeh Abil Hasan Ali Asy Syadzily, Habib Hasan bin Thoha bin Yahya dan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar pondok pesantren yang diasuh oleh KH Drs Muhammad Masroni.

Meski membuat arus lalu lintas tersendat beberapa saat, arak-arakan justru menjadi perhatian warga, terutama saat tiba di depan Pasar Gunungpati. Beberapa petugas dari Polsek Gunungpati dan Satkorcab Banser Gunungpati berupaya mengatur lalu lintas agar tetap lancar.

Makna Teladan

Setelah tiba di halaman ponpes, upacara penyerahan bendera pun dimulai. Pasukan pembawa bendera Merah Putih menyerahkan bendera kepada Danramil Gunungpati, Kapten Inf Sugeng Wiratno, didampingi Kapolsek Gunungpati, Kompol Purwanto, Wakil Bupati Demak H Dachirin Said, KH Drs Muhammad Masroni serta istri Habib Luthfi bin Yahya, Umi Syarifah Salmah Binti Hasyim Bin Yahya.

Dalam amanat upacara, Sugeng Wiratno berpesan para generasi muda nguri-uri kebudayaan asli dan tetap menjunjung tinggi dalam kegiatan apapun seperti yang dilakukan di pondok pesantren ini. Meski rutinitas keseharian adalah mengaji, namun para santri dan masyarakat bersama-sama ikut terlibat dalam acara dan menampilkan kebudayaan asli.

"Saya merasa bangga, pawai ini menjadi simbol semangat untuk tetap meneruskan perjuangan para pahlawan dengan 17 bendera yang diarak sejauh tiga kilometer," ujarnya.

Usai 17 bendera di tancapkan di pintu gerbang pondok pesantren, ratusan jamaah yang hadir siang itu mendapat hiburan menarik, seperti tari merak, tari japin, atraksi grup drum band, dan permainan cublak-cublak suweng.

KH Drs Muhammad Masroni menuturkan, kegiatan yang berlangsung tiap tahun sejak pesantren itu didirikan pada 2008 tersebut untuk membangkitkan semangat masyarakat agar terus bersatu dan tidak mudah dipecah belah oleh kepentingan yang tidak baik.

Dijelaskan pula, pondok pesantren yang berdiri di dusun tersebut merupakan pesantren cabang ke tujuh yang didirikan oleh Habib Lutfi. Pesantren pertama yang ada di Kota Pekalongan merupakan pesantren salaf yang dirintis dan didirikan oleh para Walisongo, yakni As-Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal dengan Sunan Gunung Jati.

( Muhammad Syukron / CN32 / JBSM )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share

Baca Juga


Panel menu
Berita Terbaru
05 September 2014 | 23:56 wib
Dibaca: 3369
05 September 2014 | 23:45 wib
Dibaca: 3625
05 September 2014 | 23:30 wib
Dibaca: 3490
image
05 September 2014 | 23:15 wib
Dibaca: 4543
05 September 2014 | 23:00 wib
Dibaca: 3336
Panel menu tepopuler dan terkomentar
 Berita Terpopuler
05 September 2014 | 23:15 wib
02 September 2014 | 12:53 wib
05 September 2014 | 23:45 wib
05 September 2014 | 23:30 wib
FOOTER