
SEMARANG, suaramerdeka.com - Pengembangan rumah potong unggas (RPU) lebih efisien didekatkan dengan sentra peternakan unggas. Efisiensi tersebut untuk menekan lonjakan harga akibat beban biaya transportasi.
Hal itu disampaikan Pakar Sosial Ekonomi Peternakan dari Undip Dr Ir Siswanto Imam Santoso MP. Siswanto menilai pengembangan RPU lebih dari satu titik ini mesti komprehensif. "Permasalahan yang dihadapi Pemkot selama ini adalah seringkali penataan masih dilakukan secara parsial. RPU Penggaron misalnya, belum ada transportasi yang memadai untuk mengangkut unggas dari peternakan. Padahal pengangkutan ternak dengan mempertimbangkan animal welfare ini sudah suatu
keharusan," ujarnya.
Keharusan dasar dalam memperlakukan hewan (animal welfare) ini baru dipenuhi oleh perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang agribisnis seperti Charoen Pokphand, Super Unggas Jaya, dan lainnya. Menyikapi sentralisasi RPU di satu titik, dia menilai hal itu akan memberatkan konsumen. Harga jual karkas unggas dikhawatirkan tidak mampu bersaing dengan yang ada di pasar.
Jika pengembangan RPU didekatkan dengan sentra perunggasan, maka biaya transportasi yang dikeluarkan pedagang akan semakin ringan. Sebaliknya, semakin jauh maka mereka akan menanggung beban transportasi berlipat ganda.
Adapun sentra perunggasan yang dimaksud adalah terdapat populasi ternak unggas dalam jumlah banyak. Lebih lanjut, Pemkot semestinya jangan menyamakan persepsi sentralisasi pemotongan hewan di satu titik antara unggas dengan ternak besar.
( Hartatik / CN32 / JBSM )