
PANEN RAYA: Kabid Tanaman Pangan Dispertahut, M Aris Nugroho (topi merah), dan Kepala Kantor Ketahanan Pangan (KP4) Maman Sugiri (baju batik), ikut naik kuda lumping bersama para petani. (suaramerdeka.com/Panuju Triangga)
KULONPROGO, suaramerdeka.com - Mensyukuri berkah tibanya masa panen tanaman padi, para petani di Dusun Trimulyo, Desa Sogan, Wates, Kulonprogo menggelar panen raya. Uniknya, mereka mengawalinya dengan arak-arakan kuda lumping lengkap dengan mengenakan pakaian tradisional menuju ke sawah.
Arak-arakan kuda lumping terdengar rancak beriringan musik gamelan yang ditabuh harmonis menyatu dengan alam persawahan. Begitu sampai di sawah, para pemain kuda lumping langsung memotong padi dengan sabit. Acara itu dihadiri juga oleh Bupati Hasto Wardoyo, Wabup Sutedjo, serta beberapa pejabat terkait.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Panca Manunggal Desa Sogan, Maryono, dari keseluruhan lahan 105 hektar di bulak Trimulyo itu sebagian besar ditanami varietas ciherang. Sedangkan 25 hektar untuk padi varietas baru yakni Inpari 13.
"Ini digelar dengan kuda lumping untuk melestarikan budaya Jawa, sekaligus agar semarak. Ini merupakan panen raya masa tanam (MT) pertama 2012, di mana kami juga menanam bibit baru varietas Inpari 13," ungkapnya di sela-sela panen.
Hasil padi Inpari 13 yang ditanam petani di bulak Trimulyo itu ternyata cukup bagus. Berdasarkan perhitungan ubinan produktifitasnya pada panen kali ini bisa mencapai 7,6 ton per hektar. Hanya saja, diakui Maryono, hasil itu belum maksimal karena seharusnya tingkat produktivitasnya bisa 8 ton/ha.
"Tahun depan akan kami lanjut menanam Inpari 13. Untuk kali ini kami belum begitu paham karakteristiknya karena masih baru. Seperti umurnya lebih pendek, sehingga pemupukan yang kami lakukan kurang tepat dan hasilnya kurang optimal," jelasnya.
Padi Inpari 13, lanjutnya, hanya berumur 105 hari berbeda dengan varietas ciherang yang biasa ditanam dengan usia 120 hari. Adapun produktifitas padi ciherang yang sudah biasa ditanam para petani di bulak Trimulyo itu bisa mencapai 9 ton per hektar.
"Kemarin sempat terkendala ada serangah hama pupuk beluk atau sundep juga. Tapi bisa diatasi dengan penyemprotan massal, yang terserang hanya sedikit, kurang dari 5 persen," ungkapnya.
Usai digelarnya pemotongan padi sebagai tanda dimulainya panen raya, acara dilanjutkan dengan dialog. Sarjiyono, salah satu petani mengungkapkan bahwa di wilayah bulak Trimulyo masih ada saluran irigasi yang belum dilakukan pembangketan sepanjang 1100 meter.
( Panuju Triangga / CN32 / JBSM )