
JAKARTA, suaramerdeka.com - Hal tersebut disampaikan kedua Menlu pada press conference hari Jumat (24/2) di Gedung Pancasila, seusai Menlu RI Marty Natalegawa menerima kunjungan Menlu Republik Sudan Ali Ahmed Karti. Keduanya membahas berbagai macam isu di kawasan masing-masing, mulai dari ekonomi hinggu isu Suriah.
“Kami sepakat untuk merefleksikan kedekatan antara kedua negara ke dalam peningkatan hubungan ekonomi, perdagangan dan investasi”, tutur Marty membuka press conference.
Memang kedekatan hubungan politik Indonesia-Sudan sudah berlangsung sejak Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada tahun 1955, bahkan sebelum Sudan memperoleh kemerdekaanya Indonesia sudah mendorong Sudan untuk tampil dalam kancah forum internasional. Karena itu Menlu RI dan Menlu Republik Sudan berkeinginan untuk menjadikan kedekatan hubungan ini sebagai suatu modalitas bagi langkah positif untuk meningkatkan kesejahteraan raktyat kedua negara. “Kami tentunya akan memfasilitasi para usahawan untuk membuka hubungan dagang dan investasi di Sudan”, jelas Marty.
Hal ini lalu disambut baik oleh Ali Ahmed Karti yang mengundang para investor Indonesia untuk berinvestasi di negara Afrika Utara yang kaya akan sumber daya alam ini. Menlu Sudan lalu menyambung dengan menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Pemerintah Indonesia yang sudah banyak memberi dukungan bagi Republik Sudan di berbagai fora. Karena itulah ia menyatakan pemerintah negaranya mempunyai niatan yang sama, yaitu bahwa Republik Sudan akan senantiasa mendukung Indonesia dalam perjuangan diplomasinya.
Pada sesi tanya jawab media sempat menanyakan perkembangan konflik antara Republik Sudan dan Sudan Selatan. Menjawab hal ini, Ali Ahmed Karti lalu menyatakan dengan jelas bahwa pihaknya akan tetap memilih jalan perundingan damai dengan pihak yang bertikai. Ia mengatakan bahwa Sudan Selatan mempunyai pilihan untuk menentukan nasibnya sendiri. Dan Pemerintah Republik Sudan terus mendorong langkah-langkah yang mengedepankan dialog ketimbang kekerasan atau konflik senjata.
Bahkan dalam hal ini, Menlu Sudan pun menyatakan keinginan pemerintahnya untuk belajar dari Indonesia yang telah berhasil mengatasi konflik di Aceh dan Timor Leste. Menyinggung isu Suriah, kedua Menlu satu suara dalam menyikapi hal ini, yaitu melalui perundingan damai antara pihak Pemerintah Suriah dan oposisi. “Kekerasan di Suriah harus dihentikan, tidak besok namun sekarang juga”, tegas Marty menjawab pertanyaan seputar Suriah.
Marty menyebutkan bahwa langkah-langkah diplomatis harus diimplementasikan, dan sekarang ini Indonesia mencoba mencari langkah damai melalui peran OKI (Organisasi Konferensi Islam) terhadap situasi di Suriah. Menutup press conference Menlu Republik Sudan menyatakan pihaknya juga mendukung adanya pembicaraan di Suriah guna menciptakan kondisi yang stabil di kawasan. Tidak ketinggalan ia pun menyatakan mutual learning process antara Indonesia – Republik Sudan akan terus dilakukan demi kebaikan kedua negara.