
GERAKAN: Salah satu gerakan yang ditampilkan para penari LeineRoebana Dance Company di Auditorium RRI Semarang Kamis malam (23/2). (suaramerdeka.com / Bambang Isti)
SEMARANG, suaramerdeka.com - Standing ovation penonton, sebagai apresiasi atas penampilan kelompok tari LeineRoebana Dance Company asal Amsterdam, Belanda, berlangsung, begitu grup tari moderen kontemporer itu menyelesaikan repertoar tarinya semalam di Auditorium RRI Semarang.
Digelar Kamis malam (23/2), grup tari yang terdiri dari 5 penari Belanda dan 3 penari asal Solo, Jawa Tengah ini, masih menyisakan banyak pertanyaan saat orang selesai menyaksikan pertunjukannya.
"Karena sebenarnya dengan repertoar tari berjudul 'Ghost Track' ini, memang sebuah pertunjukan yang tidak punya cerita. Namun inilah sebenarnya cerita pertemuan antara barat dan timur lewat bahasa tubuh," kata Harijono Roebana pencipta "Ghost Track" di belakang panggung.
Menurut koreografer yang memiliki ayah asal Blitar dan ibu Belanda ini, "Dalam tarian ini yang ada adalah cerita tentang tubuh Eropa dan tubuh Indonesia, tapi bisa bersinergi dalam bahasa tubuh yang sama," kata Harijono.
Menggabungkan tradisi Jawa dengan gerak gaya "gagahan" dan gerakan kontemporer moderen bergaya Eropa terasa tidak berbatas. Dengan iringan musik gamelan ensambel Kyai Fatahillah (Bandung), semakin melengkapi kualitas produk koreografi karya Andrea Leine dan Harijono Roebana ini.
Grup tari ini akan menyelesaikan sisa pertunjukan di kota Surabaya (26/2) dan Jakarta (1/3). Sebelumnya mereka tampil di Jakarta, Bandung, Solo dan Jogja.