
SOLO, suaramerdeka.com - Kendati konsorsium investornya telah bubar dua tahun lalu, Wali Kota Surakarta Joko Widodo masih terus mengupayakan realisasi pembangunan opera house. Keberadaan opera house dirasa penting menjadi sarana untuk mengembangkan festival dan seni pertunjukan.
"Dalam pandangan saya, Solo ini akan saya jadikan kota karnaval dan seni pertunjukan. Karena itu, butuh suatu tempat untuk menyajikan karnaval dan seni pertunjukan itu," papar dia.
Dia mengatakan, untuk membangun opera house dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Diestimasikan dana pembangunan mencapai Rp 4,3 triliun, sehingga butuh investor yang tergabung dalam sebuah konsorsium. Tidak mungkin dana sebesar itu bisa didapat dari satu atau beberapa investor saja. Sayang, dua tahun lalu konsorsium tersebut bubar yang mengakibatkan pembangunan opera house tersendat.
"Sekarang, yang jadi problem adalah, susah untuk ngrukunke uwong akeh," imbuh dia.
Opera house ini akan berada pada satu lokasi dengan convention hall, pasar rakyat, hingga galeri. Berbagai pertunjukan seni mulai dari tari, musik etnik, performing art hingga konser musik bisa digelar di tempat tersebut.
"Jadi, nantinya kesenian rakyat juga berkembang, namun pertunjukan dengan skala yang lebih besar juga berkembang. Sementara untuk area pertunjukan outdoor akan dibangun ISI seluas 2 hektare," ucapnya.
Di sisi lain dia menegaskan pengembangan wisata karnaval dan seni pertunjukan ini tidak akan menggeser fokus Solo sebagai Kota MICE. Justru keberadaan keduanya bisa menjadi magnet yang saling bersinergi.
( Astuti Paramita / CN32 / JBSM )