
SLEMAN, suaramerdeka.com - Ekonomi keluarga yang rendah, tidak selalu menjadi faktor pemicu balita mengalami kekurangan gizi. Berdasar data di Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman, sebagian penderita gizi buruk justru berasal dari kalangan keluarga ekonomi mapan.
"Tidak semua penderita adalah keluarga miskin. Ada juga dari kalangan ekonomi mapan," kata Kepala Dinkes Sleman Mafilindati Nurani, Selasa (21/2).
Kasus semacam ini biasanya disebabkan kesibukan orangtua bekerja, serta tidak adanya penerapan pola gizi pada anak. Untuk mengatasi gizi buruk, jelas dia, keluarga harus memahami pentingnya sadar gizi. Salah satunya melalui pemberian air susu ibu pada bayi hingga usia enam bulan. "ASI bisa memberi kekebalan pada bayi. Setelah umur enam bulan, baru anak diberi makanan tambahan," ujarnya.
Disinggung mengenai upaya Pemkab, dia mengatakan ada beberapa program yang telah diterapkan. Diantaranya pemberian bantuan makanan tambahan kepada balita dan ibu hamil, serta audit gizi buruk yang dilakukan antar puskesmas.
Kegiatan audit ini dilaksanakan dengan mendatangkan narasumber ahli, sehingga bisa didapat cara yang tepat untuk menangani penderita gizi buruk. "Penanganan ini tidak sebatas pola asuh, tapi juga kelainan tumbuh kembang. Upaya ini akan terus kami lakukan, karena terbukti cukup efektif menekan jumlah penderita," imbuhnya.
Pada 2010, jumlah balita pengidap gizi buruk ditinjau dari indikator berat badan mencapai 388 anak. Tahun berikutnya, angka tersebut turun menjadi 308 anak. Sedangkan dari tinjauan tinggi badan, pada 2010 terdata 115 anak. Di akhir 2011, jumlahnya berkurang menjadi 87 anak.
( Amelia Hapsari / CN27 / JBSM )