
SOLO, suaramerdeka.com - Derasnya permintaan pembangunan rumah di berbagai wilayah di eks Karesidenan Surakarta membuat sejumlah pengembang kewalahan. Bahkan, belakangan pengembang kesulitan untuk mendapatkan tenaga kerja.
Diutarakan Ketua Real Estat Indonesia (REI) Cabang Solo, Yulianto, properti merupakan sektor yang menyerap banyak sekali tenaga kerja. Sayang, derasnya permintaan di sekotor ini tidak diimbangi dengan ketersediaan tenaga kerja. Akibatnya, dua bulan ini pengembang terpaksa merampungkan proyek dengan jumlah tenaga kerja yang terbatas.
Tidak hanya para pengembang, banyak pula orang pribadi yang sekarang ini tengah membangun. Lantaran upahnya yang lebih tinggi, banyak kemudian dari pekerja lebih banyak terserap ke pembangunan rumah pribadi.
"Upah tenaga kerja di rumah pribadi tentu lebih tinggi, karena itu mereka mungkin lebih senang bekerja borongan di rumah umum yang bukan proyek pengembang. Akibatnya, pengembang kekurangan pekerja untuk merampungkan proyek," kata dia.
Dia mencontohkan, dari kebutuhan sebanyak 700 pekerja di perumahan yang dikembangkannya, baru 500 orang yang tersedia. Hal ini cukup merepotkan karena sedikit banyak akan berakibat pada jadwal molornya penyelesaian proyek.
Kendati demikian, pihaknya tidak bisa serta merta menaikkan upah pekerja lantaran untuk menghindari pasar yang tidak sehat. Diprediksi, apabila satu pengembang menaikkan upah tenaga kerja maka pengembang lain akan mengikuti strategi serupa. Hal ini dikhawatirkan malah akan mendongkrak biaya pembangunan.
"Perkembangan properti di Solo sedang bagus-bagusnya. Hal ini didukung perbankan yang makin variatif menawarkan berbagai produk," imbuhnya. Di sisi lain, segera diumumkannya skema fasilitas likuiditas pembiyaan perumahan (FLPP) oleh pemerintah dalam waktu dekat juga akan mendorong permintaan rumah makin tinggi. Sebab, suku bunga acuan Bank Indonesia sekarang ini sedang rendah. Baik pengembang atau konsumen dirasa tidak akan melewatkan kesempatan ini.
"Skema FLPP sudah disepakati, hanya saja memang belum diumumkan secara resmi. Kita tunggu saja bersama bagaimana keputusannya," tandasnya.
( Astuti Paramita / CN32 / JBSM )