
IKUT NGIBING: Miyuki Kawai (23), mahasiswa semester 4 Hokkaido University tertarik untuk ikut menari dalam pementasan tari Tayub bertajuk 'Pementasan Budaya Hidup I' di aula Museum Ranggawarsita Semarang, Sabtu (18/2). (suaramerdeka
Saben dino mung ngalamun
Jroning sepi, sepi samun
Amung tansah kadulu
Wewayanganku duh nimas wong ayu
Linali tan biso lali
Soyo angrerujit ati
Lelewane cah manis
Amung kumantil ing panduking netro...
POTONGAN lirik tembang Imbangono Tresnaku ciptaan Ki Susilo Tengkleng terdengar apik dinyayikan beberapa penari tayub. Tabuhan gendang sebagai pertanda masuknya penari pun seolah-olah bak gayung bersambut, satu demi satu penonton yang memadati aula Museum Ranggawarsita diajak menari berpasangan bersama empat penari tayub dari Kabupaten Grobongan.
Dari keempat penonton yang menari, ada satu penari dadakan yang terlihat canggung mengikuti gerak langkah irama. Setelah menari satu lagu, dia pun terlihat kembali naik untuk menari lagi.
"Ini kali pertama saya menari. Susah juga mengikuti gerak penari, namun menurut saya menari Tayub sangat menyenangkan," kata Miyuki Kawai (23), mahasiswa semester 4 Hokkaido University ketika ditanya kesannya usai menari.
Aktivis seni asal Jepang ini dibantu penerjemah mengatakan, selama dua pekan berada di Jawa Tengah nantinya akan mengunjungi beberapa tempat wisata seperti Borobudur dan pusat kerajinan yang ada di Kota Semarang. Menurutnya, Jawa Tengah kaya akan seni dan budaya yang tidak dipunyai bangsa lain.
Pihak Museum Ranggawarsita sendiri sengaja menggelar pentas tayub dalam tajuk "Pementasan Budaya Hidup I" untuk menggalakkan potensi seni di daerah.
Hal tersebut dikemukakan Staf Pengkajian dan Pelestarian Museum Ranggawarsita Budi Santoso. Menurutnya, menjelang Visit Jateng Year 2013 pihaknya akan menggelar seni pertunjukan di museum yang diresmikan 5 Juli 1989 tersebut.
"Kali ini kami mengundang kesenian tayub dari Kabupaten Grobogan dengan iringan atau niaga dari Madya Laras," tuturnya.
( Ranin Agung / CN33 / JBSM )