
SEMARANG, suaramerdeka.com - Meski dalam periode yang sama dibanding tahun lalu kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) menurun drastis di Kota Semarang, namun penyakit itu masih patut diwaspadai otoritas kesehatan setempat. Pasalnya, hingga bulan ini sudah ada dua korban DBD meninggal.
Wali Kota Soemarmo HS mengatakan, jumlah penderita DBD pada 2011 mencapai 1.330 kasus disertai 47 kasus kematian. Hingga bulan ini, dua balita dari Kelurahan Sampangan Kecamatan Gajahmungkur meninggal akibat penyakit yang berjangkit dari nyamuk Aedes Aigepty.
"Tahun-tahun sebelumnya, Kecamatan Tembalang menduduki peringkat pertama kasus DBD. Setelah digencarkan gerakan PSN (pemberantasan sarang nyamuk-red) jumlah kasus DBD disana turun," ujarnya, saat tinjauan ke Kelurahan Sampangan.
Menurutnya, penanganan DBD merupakan tanggungjawab bersama. Tidak bisa hanya menggantungkan pemerintah kota saja. Ia mengimbau masyarakat agar terus mewaspadai DBD, karena di musim hujan ini perkembangan nyamuk penyebab penyakit demam berdarah akan meningkat.
Untuk itu masyarakat diminta tetap menggalakkan budaya 3M (Menguras, Menutup, Mengubur) agar nyamuk tidak berkembang. "Budaya 3M yakni menguras tempat penampungan air, menutup dan mengubur barang yang bisa menampung air tempat berkembangnya nyamuk tersebut harus tetap dilakukan," pintanya.
Sementara itu, Kabid Pencegahan Pemberantasan Penyakit Widoyono menyebutkan, dua balita yang meninggal akibat DBD adalah TA dan Z, warga RT 9/RW 1 Menoreh Utara XIII, Kelurahan Sampangan. "Masing-masing meninggal pada 5 Januari dan 7 Februari lalu," jelasnya.
Setelah dilakukan pemeriksaan jentik di rumah korban, diperoleh angka bebas jentik (ABJ) rendah yakni 55%. Dengan persentaser ABJ yang rendah ini mengindikasikan adanya nyamuk penular DBD di lokasi tersebut.
Menyikapi kejadian itu, DKK bersama Puskesmas Pegandan melakukan koordinasi dengan warga dan tokoh masyarakat setempat untuk melaksanakan gerakan PSN dan fogging fokus.
( Hartatik / CN33 / JBSM )