
SOLO, suaramerdeka.com – Pendidikan Kesenian dinilai tidak bisa dipisahkan dengan kebudayaan. Jika keduanya dipisahkan maka kesenian hanya akan menjadi sebuah tontonan semata. Padahal, kesenian seharusnya masuk dalam kehidupan masyarakat yang tertuang dalam kegiatan keseharian.
Oleh karenanya, perubahan nama Institut Seni Indonesia (ISI) menjadi Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) sangat mendesak. "Perubahan nama ISI menjadi ISBI ini adalah ide baik dan mendesak. Kesenian jangan sampai hanya jadi objek. Kesenian dipisahkan dengan kebudayaan adalah naif," kata Dosen Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta, Prof Dr Rahayu Supanggah, saat ditemui, Rabu (15/2).
Pria yang juga ditunjuk oleh Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) sebagai salah satu anggota tim perumusan perubahan nama tersebut mengatakan, pendidikan seni di luar negeri sudah digabung dengan kebudayaan. Sehingga, pendidikan tidak terkesan kering.
Mestinya, pendidikan seni tidak hanya berkutat pertunjukan seni semata melainkan mahasiswa paham bagaimana cara berkomunikasi dengan orang lain (stake holder), teknologi dan kebudayaan masyarakat.
Lebih jauh mengatakan, untuk membentuk seniman yang hebat, tidak bisa hanya dijejali dengan kapasitas seni belaka. Enam puluh persen kompetensi yang mereka miliki justru berasal dari sisi kebudayaan. Bahkan, ia menegaskan, jika seorang seniman bisa disebut sebagai budayawan, sementara budayawan belum tentu seorang seniman.
( Hanung Soekendro / CN31 / JBSM )