
PAPARKAN MATERI: Kabid Pengembangan Promosi Pariwisata Disbudpar Jateng Budiyanto memberi penjelasan dalam rapat ‘’Visit Jateng Year 2013’’ di kantor Bakorlin Jateng II, Selasa (14/2). (suaramerdeka.com / Langge
SOLO, suaramerdeka.com - Persiapan Visit Jateng Year 2013 terus digeber agar target mendatangkan 25 juta wisatawan nusantara dan 500 ribu wisatawan asing tercapai.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), dan Biro Perekonomian Pemprov Jateng menggelar rapat pemantaban di kantor Bakorlin II wilayah Surakarta dan Kedu di Solo, Selasa (14/2).
Dalam kesempatan itu, Kabid Pengembangan Promosi Pariwisata Disbudpar Jateng Budiyanto meminta pada para kepala Disbudpar kabupaten/kota yang hadir di rapat untuk mempersiapkan destinasi dan atraksi wisata. "Saya minta tiap daerah mempersiapkan kalender event," katanya.
Menurut dia, destinasi-destinasi unggulan di Jateng dinilai belum siap menuju perhelatan Visit Jateng Year 2013. Hingga saat ini baru ada dua kota yang me-launching untuk kegiatan tersebut, yakni Pekalongan dan Semarang.
Ia mengatakan, semua stake holder punya keinginan agenda Visit Jateng Year berhasil. Tapi sampai saat ini hampir semua kota kabupaten yang memiliki destinasi itu belum siap dengan agenda tersebut.
Karena itu, pihaknya merasa perlu mendorong kerja sama agar target kunjungan wisatawan bisa terealisasi. Jika destinasi siap, pihaknya siap promosi. Untuk menyukseskan tahun kunjungan wisata Jawa Tengah, khususnya dalam menggaet wisatawan asing, pihaknya akan melakukan promosi ke Jerman, China, Singapura, dan Malaysia.
"Selain membranding 75 taxi di Singapura, kita juga akan membranding bus AKAP dan AKDP untuk promosi Visit Jateng Year 2013," jelasnya.
Arif Wahyudi dari Bappeda Jateng menambahkan, di Jateng setidaknya terdapat 256 daya tarik wisata (DTW) yang terdiri dari 113 DTW alam, 67 DTW budaya dan 86 DTW buatan manusia. Selain itu juga terdapat 43 museum, 56 candi, 142 situs, 189 ragam budaya tradisional, 641 kesenian tradisional, serta 2.930 kesenian non tradisional dan 16 klaster pariwisata.
Lantaran kurang promosi dan kemitraan dengan pihak swasta dan BUMN lemah, lanjut dia, maka daya jualnya masih lemah. "Padahal dengan potensi yang dimiliki pariwisata Jateng bisa bersaing dengan Yogyakarta maupun Bali," katanya.
( Langgeng Widodo / CN26 / JBSM )