
YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Puluhan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, meminta keterbukaan dan transparansi keuangan rektorat yang selama ini dinilai tertutup. Sehingga membuat mahasiswa jengkel dan berontak.
Aksi yang yang dilakukan mahasiswa UIN, Senin (30/1) itu dipicu pembelian mobil mewah untuk mobil dinas Rektor UIN. Puncak dari aksi tersebut, mahasiswa terpaksa membakar ban hingga membuat suasana kampus gaduh karena banyak mahasiswi yang takut hingga memilih pergi keluar kampus.
Menurut para pengunjukrasa, sebagai seorang akademisi, tidak sepantasnya rektor menggunakan mobil mewah sebagai mobil dinas. Apalagi sampai menggunakan mobil mewah yang harganya cukup mahal. Sehingga mahasiswa menolak terhadap keberadaan mobil rektor yang cukup mahal tersebut.
Dalam aksi itu, para mahasiswa kemudian masuk ke lobby Gedung Rektorat (Gedung Administrasi). Para mahasiswa tersebut kemudian langsung membakar ban yang sudah mereka bawa. Namun api segera dipadamkan oleh Satpam Kampus yang berjaga. Akibatnya, terjadi keributan antara mahasiswa dengan Satpam.
Namun keributan itu kemudian bisa dilerai setelah mahasiswa bisa memahami pemadaman api tersebut. Para mahasiswa kemudian melanjutkan aksinya dengan kembali membakar ban dan atribut aksi lainnya.
Koordinator aksi, Nurcholis, mengungkapkan, aksi bakar ban ini merupakan bentuk sikap mahasiswa yang menganggap kepemimpinan rektor, Musa Asy'ari, dianggap tidak memberikan efek positif terhadap kemajuan kampus. ''Kami telah meminta laporan pengeluaran anggaran kampus selama setahun, namun tidak direspon secara positif,'' katanya.
Bahkan, lanjut dia, dipersulit untuk mengakses informasi terkait kebijakan dan pengeluaran keuangan di kampus. Sikap kampus yang cenderung tertutup, jelas sudah menyalahi aturan UU nomor 14 tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik. Para demonstran menilai, saat ini kampus UIN cenderung elitis dan hedonis. Diantaranya, penggunaan kendaraan mewah rektor dan petinggi kampus yang semakin menunjukkan bahwa institusi kampus tidak memberikan contoh kesederhanaan pada mahasiswa.
( Sugiarto / CN27 / JBSM )