
BOYOLALI, suaramerdeka.com - Guna mengantisipasi penyebaran wabah flu burung, Dinas Peternakan dan perikanan (Disnakan) Boyolali melakukan gerak cepat. Langkah pertama adalah melakukan penyemprotan disinfektan ke pasar ayam dan pasar hewan.
Seperti yang dilakukan di Pasar Ayam Ngebong, Kecamatan Boyolali Kota, Rabu (25/1) pagi. Dua petugas langsung menyemprotkan disinfektan ke seluruh kandang ayam milik pedagang. Petugas juga menyemprot areal pemotongan ayam dan lantai los. Hal itu dimaksudkan untuk membunuh kuman atau virus flu burung agar tidak menular kepada manusia.
Di tengah kegiatan penyemprotan, petugas juga menemukan dua ekor unggas mati terdiri seekor ayam dan seekor angsa. Seekor ayam mati bahkan disembelih di tempat penyembelihan unggas. Petugas langsung menanyakan siapa pemilik ayam mati tersebut, namun tak seorang pun yang mengaku. Akhirnya, ayam tersebut disita untuk dimusnahkan.
“Unggas bangkai sangat berbahaya kalau dikonsumsi. Sayang, tak ada pedagang yang mengakuinya sehingga kami kesulitan merunut asal ayam mati tersebut," Kepala Disnakan Boyolali, Darsono.
Dijelaskan, kegiatan penyemprotan dilakukan untuk mengantisipasi wabah flu burung yang merebak di Jakarta dan wilayah lain. Pihaknya bergerak cepat agar wabah tersebut tidak menular ke wilayah Boyolali. Apalagi, kasus kematian unggas yang disebabkan flu burung pernah menyerang wilayah Boyolali tahun 2009 dan 2010.
Pihaknya menemukan kasus kematian unggas di Dukuh Berduk, Desa Sidomulyo dan Desa Tanduk. Ada pula temuan suspect pada manusia, namun setelah dicek lebih lanjut ternyata negatif. "Kewaspadaan diperlukan mengingat sejumlah wilayah kecamatan termasuk endemis flu burung yaitu, Boyolali Kota, Ampel, Teras, Mojosongo dan Banyudono," terangnya.
( Joko Murdowo / CN33 / JBSM )