
Semarang, CyberNews. Puluhan anggota yang tergabung dalam komunitas Semarang Independent Bartender (Sinbad), Jumat dini hari (11/11) menggelar jugling bareng di Bunderan Tugumuda.
Ngumpul-ngumpul dan juggling bareng merupakan rutinitas yang acap kali dilakukan komunitas bartender tersebut.
Ketua Semarang Independen Bartender Sasmito Aji Prakoso mengatakan, sebenarnya komunitas ini terbentuk dari lima orang perintis sejak 6 tahun lalu. Berdiri pada tahun 2005. "Kami sempat vakum dan mengalami pergantian pengurus waktu itu. Terus gara-gara ketemu lagi dan latihan juggling bareng, komunitas ini aktif lagi sampai sekarang," ujar Aji.
Kegiatannya, latihan juggling bareng dan saling sharing dalam pertemuan rutin yang mereka lakukan setiap Minggu malam di Tugumuda.
Saat ini komunitas ini beranggotakan 50 orang. Mereka terdiri dari anak-anak bar dari beberapa hotel dan café di Semarang.
Komunitas ini bertujuan untuk lebih memperkenalkan kepada masyarakat tentang dunia bartender. Pasalnya, selama ini dunia bartender identik dengan minuman keras serta kehidupan malam yang glamour.
"Negatif abis donk. Tetapi, sebenarnya bukan itu yang terkandung dalam dunia bar. Lebih tepatnya kehidupan lifestyle yang juga punya kegiatan positif.
Kalau berminat gabung dalam anggota Semarang Independen Bartender tak ada persyaratan khusus yang diminta. Tinggal datang ke tempat berkumpul komunitas ini.
"Tak harus bartender kok yang boleh masuk jadi anggota. Yang penting interest dengan dunia bar dan bersedia mengikuti latihan rutin," terang Aji saat ditemui usai acara.
Ke depan, komunitas yang anggotanya banyak meraih prestasi ini untuk memperkenalkan komunitas ini ke masyarakat luas dengan mengadakan bakti sosial ke panti asuhan.
Sekali lagi, Aji dan kawan-kawan ingin membuktikan bahwa dunia bartender tidak negatif. Yang lebih penting lebih banyak mengedukasi masyarakat luas.
Salah-satu juru bicara Semarang Independen Bartender Eko Joko Saputro mengatakan untuk menghormati antar anggota pada saat juggling tidak minum minuman keras karena jika kebanyakan akan mabuk.
Terkait soal identiknya bartender dengan minuman keras, Eko sendiri mempunyai pengalaman dimarahi konsumen karena menolak memberikan minuman beralkohol kepada pelanggan yang telah mabuk berat, justru dia malah dimarahi habis-habisan dihadapan orang banyak oleh konsumen.
( Yulianto / CN32 / JBSM )