panel header


NGUYAHI BANYU SEGARA
Melakukan Hal yang Sia-Sia
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
07 Oktober 2010 | 23:00 wib
Hamka Pertama Kali Populerkan Halal bi Halal

Jakarta, CyberNews. Istilah halal bi halal adalah istilah asli Indonesia, dan baru dikenal pada tahun 1963, saat Buya Hamka bertemu dengan Presiden RI Soekarno di Istana Negara dalam suasana Idul Fitri.

"Pada saat keduanya berjabat tangan, Buya Hamka mengatakan kita halal bi halal, dan Bung Karno mengatakan juga dengan keras halal bi halal. Lalu tahun-tahun berikutnya Bung Karno yang mempopulerkannya," papar Ketua MUI Prof Dr Umar Shihab dalam acara halal bi halal 1431 H LDII di Sekretariat DPP LDII Jalan Patal Senayan, malam ini (7/10).

Menurutnya dalam sebuah wawancara Buya Hamka mengatakan bahwa makna halal bi halal adalah bertemunya pribadi-pribadi yang suci yang telah serius menggembleng dirinya dalam bulan Ramadhan.

"Halal itu suci, bersih, baik. Halal bi halal adalah upaya mempertemukan pribadi-pribadi yang baik yang telah sungguh sungguh menjalankan ibadah Ramadhan, begitu keterangan Buya" kata Umar yang saudara kandung mantan Menag Prof Dr Quraish Shihab tersebut.

Dalam bahasa agama, halal bi halal sepadan dengan silaturahim. Umar mengatakan bahwa adalah orang yang merugi bila enggan menyambung bahkan memutuskan sialturahim.

Dalam kesempatan yang sama Katib Aam PBNU KH Dr Malik Madani mengatakan bahwa halal bi halal adalah local wisdom, yang perlu dipelihara keberlangsungannya, dalam upaya untuk mempertahankan ukhuwah Islamiyah. "Yaitu persaudaraan yang Islami. Hal ini tidak terbatas dengan sesama muslim saja. Tapi bisa dengan pemeluk agama lain dengan spirit nilai-nilai Islam," papar Malik.

Menurutnya inti persaudaraan yang Islami adalah yang mengedepankan nurani dan lebih produktif, lebih mengayomi keutuhan bangsa kita yang majemuk, daripada ukhuwah diniyah yang jahiliyah.

"Ukhuwah diniyah yang jahiliyah itu, adalah persaudaran orang-orang seagama, tapi spiritnya tidak Islami, misalnya persaudaran untuk melakukan teror bom yang mengganggu ketentraman dan keamanan bangsa," katanya.

( Hartono Harimurti / CN13 )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
Berita Terbaru
27 Mei 2012 | 12:54 wib
Dibaca: 33
27 Mei 2012 | 12:39 wib
Dibaca: 52
27 Mei 2012 | 12:29 wib
Terkait Potensi Pencemaran
Kantor LH Kudus Pantau Aktivitas Giling
Dibaca: 87
27 Mei 2012 | 12:09 wib
Dibaca: 100
27 Mei 2012 | 11:50 wib
Dibaca: 105
Panel menu tepopuler dan terkomentar
Berita Terpopuler
FOOTER