
Purworejo, CyberNews. Seperti diprediksi sebelumnya, tingkat partisipasi pemilih pada pilkada putaran II mengalami penurunan. Dari hasil rekapitulasi yang dilakukan KPU, penurunannya hanya sebesar 4 %. Pemilih yang menggunakan suaranya pada putaran II hanya sebesar 58,8% dari Jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) keseluruhan sebanyak 633.806 .
Anggota KPU Divisi Sosialisasi Bambang Setyoko yang dimintai konfirmasi memaparkan, pada pilkada putaran I partisipasi pemilih mencapai 62,87% atau 398.065. Jumlah pemilih yang absen ke TPS sebanyak 235.741, sedangkan putaran II pemilih yang mencoblos di TPS sebanyak 367.679. Dengan demikian 266.127 pemilih absen, tidak mendatangi TPS.
Bambang mengungkapkan, ketidakhadiran pemilih di TPS pada pilkada putaran II polanya sama persis saat putaran I. Alasannya tidak politis, yaitu bersikap golput. Mayoritas pemilih yang tidak menggunakan hak suaranya karena merantau ke luar Purworejo.
"Sama seperti saat putaran I, KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) mendata alasan ketidakhadiran pemilih. Kesimpulannya, para pemilih tidak mencoblos karena berada di luar Purworejo" katanya, Senin (4/10).
Disebutkan, dari 16 kecamatan, sebanyak 10 kecamatan telah menyerahkan laporan alasan ketidakhadiran pemilih. Hampir semua kecamatan melaporkan mayoritas pemilih absen ke TPS karena sedang merantau. "Rata-rata sekitar 70% pemilih yang tidak menggunakan hak suaranya tengah merantau, sisanya sedang bekerja, sakit, meninggal dan hanya sedikit karena alasan lainnya," katanya.
Menurut Bambang, turunnya partisipasi pemilih itu karena meningkatnya jumlah warga yang merantau. Pada putaran I, jumlah pemilih yang tengah merantau dan tidak dapat kembali ke Purworejo saat pemungutan suara sebanyak 71.301 pemilih. Sementara, pada putaran II jumlah itu meningkat drastis menjadi 88.782 pemilih.
Diperkirakan, banyaknya pemilih yang absen ke TPS karena pilkada putaran II digelar berselang beberapa minggu saja dari Lebaran Idul Fitri. Padahal, setelah Lebaran banyak warga Purworejo yang berangkat merantau karena diajak kerabat atau temannya.
Pengamat politik lokal dari STAINU Purworejo Wasith Achadi berpendapat, penurunan partisipasi karena masyarakat sudah jenuh dengan pemilu. Hampir tiap tahun masyarakat disibukkan dengan pemilihan umum mulai dari pemilihan anggota legistalif, presiden, gubernur, bupati, hingga kepala desa. “Selain itu, isu yang berkembang seputar politik uang juga membuat masyarakat cenderung skeptis,” tandasnya.
( Nur Kholiq / CN26 )