
Bandung, CyberNews. Pengembangan N-250, pesawat yang sempat mengharumkan nama Indonesia karena merupakan buah kemampuan rancang bangun putra terbaiknya, ternyata masih belum ada kejelasan pasca dihentikan menyusul krisis 1998.
Menurut Dirut PT DI, Budi Santoso, keputusan itu sangat tergantung kepada niat pemerintah sebagai pemilik proyek pesawat baling-baling berkapasitas 50 penumpang tersebut. Terakhir, satu dari dua prototype N-250 dipamerkan pada ajang Bandung Air Show 2010 pada pekan lalu.
"Dulu kita mendapat tugas mendesain, dan membuat prototype, tapi belum selesai sepenuhnya karena dihentikan IMF. Sejauh ini belum ada rencana pengembangan, kami menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah, jalan terus atau tidak, dan itu butuh keputusan politik," tandasnya.
Bagi PT DI, situasi yang terjadi saat ini memang penuh ketidakpastian. BUMN strategis itu berharap secepatnya ada titik terang supaya N-250 tidak pula menjadi beban perusahaan. "Merawat pesawat itu tidak murah, karena pesawat itu harus diasuransikan, kalau tidak lisensi kami bikin pesawat bisa dicabut," tandasnya.
Direktur Aerostructure PT DI, Andi Alisjahbana menambahkan biaya pengembangan lanjutan N-250 diperkirakan mencapai US 200 Juta Dollar. Biaya sebanyak itu di antaranya digunakan untuk menambah jam terbang pesawat hingga dinyatakan layak mendapat sertifikasi laik udara. "Bukan sekadar terbang saja, karena langkah itu sekaligus pula menguji instrumen pesawat," tandasnya.
Hanya saja, salah satu tokoh yang berperan di balik pembuatan N-250 yang juga mantan Dirut PT DI, Jusman SD berpendapat lain. Dia menilai masa emas N-250 yang terbang perdana 10 Agustus 1995 sudah lewat. "Pesawat ini juga harus menyesuaikan lagi kepada regulasi penerbangan yang terus berkembang apabila dilanjutkan," tegas mantan Menhub itu.
Saat dihentikan, jelasnya, N-250 baru membukukan 800 jam terbang, masih butuh 1.200 jam lagi untuk mendapat sertifikasi. Meski demikian, Budi Santoso optimis pesawat bernama lain Gatotkaca itu masih bisa diterima pasar.
"Dua prototype itu kalau mau terbang perlu dibenerin dikit, karena sudah sekian tahun tidak terbang. Untuk kelas 50 penumpang, kebutuhan itu masih cukup tinggi di dunia, karena kapasitas angkut sebanyak itu belum bisa diganti jet," tandasnya.
Andi bahkan menyinggung keberadaan pesawat produk China, Xian MA-60 yang diminati salah satu maskapai penerbangan nasional. Kelasnya tidak terlalu jauh berbeda dengan N-250.
( Setiady Dwi / CN13 )