
Purbalingga, CyberNews. Selepas masa lebaran, di Purbalingga ternyata tidak hanya volume kendaraan yang meningkat, melainkan juga pasangan yang melakukan pernikahan. Di Kecamatan Rembang, hingga Kamis (16/9), tercatat sebanyak 95 pasangan calon suami-istri mendaftar ke Kantor Urusan Agama (KUA) Rembang.
Menurut staf KUA Rembang Sugriyono, setiap awal bulan Syawal, di Rembang memang banyak yang melangsungkan pernikahan. Kata dia, pada Jumat (10/9) yang bertepatan dengan hari pertama lebaran sebanyak 27 pasangan melakukan akad nikah. "Kalau sehabis bulan ramadhan memang selalu naik angka pernikahannya. Bisa mencapai 2 kali lipat," tandasnya.
Sejauh ini, sebagai salah satu daerah yang memiliki angka pernikahan tertinggi di Purbalingga, jumlah tersebut, Sugriyono mengaku KUA yang memiliki dua penghulu itu masih mampu menangani. Apalagi, dia menambahkan, jumlah tahun ini terbilang menurun dibanding dengan sebelumnya.
"Tahun kemarin, sehabis lebaran, bisa mencapai 187 pasangan yang menikah. Namun kali ini dalam satu bulan diprediksi paling maksimal hanya mencapai 150 pernikahan saja," ujarnya.
Perantauan
Selain masyarakat masih mempercayai perhitungan hari pernikahan, penyebab banyaknya warga yang mendaftarkan pernikahan pada sehabis lebaran, dikarenakan sebagian besar masyarakat Rembang menjadi pedagang di daerah perantauan, terutama kaum pria. "Jadi mudik ke kampung sekalian menikah," ujarnya saat ditemui di kantor, kemarin.
Kondisi tersebut, membuat KUA Rembang tidak mampu menolak pendaftaran pernikahan dari warga. "Kecamatan lain mungkin bisa menolak pengajuan jadwal pernikahan. Soalnya warga mereka itu rata-rata bukan perantauan, jadi bisa saja mundur," tambahnya.
Serupa dengan Rembang, angka pernikahan di Bobotsari pun meningkat. Tapi peningkatan angka pernikahanya hanya mancapai 50%. "Yang sudah terlaksana itu 47 pasangan dan sekarang yang sedang menungggu jadwal 25 pasangan. Dan yang sedang dalam proses mencapai 26 pasangan," kata staf KUA Bobotsari, Nur Iman.
Namun, calon pasangan pernikahan di Bobotsari malah berasal dari daerah yang berbeda. "Kebanyakan, yang pria berasal dari luar kecamatan kalau tidak ya malah luar daerah. Sedangkan yang perempuan baru orang Bobotsari," jelas dia.
Menurut Iman, pasangan yang menikah rata-rata masih berusia muda. "Umurnya sekitar 25 tahun ke bawah dan 95% baru pernah menikah," tambahnya.
( Bangkit Wismo / CN12 )