
Sukoharjo, CyberNews. Kapolda Jateng Irjen Pol Edward Aritonang menjenguk Yulianto di Mapolres Sukoharjo,Senin (6/9). Saat bercakap-cakap di sebelah selatan ruang tahanan, Kapolda meminta pada Yulianto untuk dapat memperbaiki diri.
Apalagi, ini masih memasuki bulan Ramadan. Ia mengatakan, Tuhan Maha Pengampun. Namun, sebagai negara hukum, perbuatan melanggar hukum harus dipertanggungjawabkan di muka hukum.
Saat itu mantan Kadiv Humas Mabes Polri itu juga menawarkan kepada Yulianto sesuatu yang mungkin dinginkan saat berlebaran nanti. "Apakah ada sesuatu yang diminta untuk berbuka puasa," tanya Kapolda.
Karena hanya diam, Kapolda lantas memberikan parsel berisi buah-buahan berada di dalam mobilnya. "Ini buah untukmu, nanti dmakan pas berbuka puasa ya. Jangan sekarang," ucapnya.
sambil menyerahkan parsel ke arah Yulianto. Selain itu, Kapolda juga bertanya apakah ada yang diminta untuk Lebaran nanti. "Untuk Lebaran mau minta apa lagi. Baju ya. Nanti saya kasih satu ya. “Opo Meneh?” ucapnya.
Sementara itu, Kapolres Sukoharjo AKBP Suharyono menjelaskan, pihaknya berencana memanggil pengusaha Solo berinisial Hardono untuk dimintai keterangan sebagai saksi. Hardono yang belakangan seorang politisi itu akan ditanya tentang bagaimana proses penerimaan pembantu rumah tangga dan seberapa lama pembantu tersebut bekerja.
Selain itu, termasuk juga bagaimana hubungan antara pembantu dengan tersangka. Tahu tidaknya kematian pembantu tersebut. Apakah hanya diduga karena sakit jantung atau memang ada tanda-tanda lainnya. “Kami perlu tahu. Untuk itu kami akan memanggilnya sebagai saksi,” ujarnya.
Kapolres juga mengatakan, saat korban meninggal majikanya turut mengantar ke Pacitan. Bahkan, tersangka Yulianto sendiri mengaku berniat ikut mengantarkan.
Namun, karena mobil sudah penuh Yulianto urung mengantar hingga Pacitan. Menurut Kapolres, pihaknya terus melakukan pengembangan kasus. Meski, dia berharap tidak muncul korban baru lagi sehingga berkas cepat selesai dan dilimpahkan.
Terkait hasil forensik korban Pacitan, Kapolres mengaku belum diketahui. Pasalnya, lokasi pembongkaran berada di pelosok dan jauh dariu rumah sakit maupun laboratorium forensik. Akibatnya, kerangka yang ditemukan diperiksa dilokasi oleh petugas.
( Budi Sarmun S / CN13 )