
Boyolali, CyberNews. Anomali cuaca membingungkan para petani tembakau. Pasalnya, mereka kesulitan menjemur tembakau rajangan karena terganggu turunnya hujan. Untuk menghindari membusuknya tembakau, para petani terpaksa turun mencari tempat yang panas.
Hal itu dilakukan Joko Sumanto (35) pengusaha tembakau asal Dukuh Turunan, Desa Ringinlarik, Kecamatan Musuk, Rabu (28/7). Tembakau rajangan yang sudah siap dikeringkan di atas anjang atau anyaman tembakau terpaksa dibawa ke lapangan Desa/ Kecamatan Mojosongo.
Dia juga membawa serta empat pekerja untuk membantu menurunkan tembakau dari atas mobil. Bila tidak langsung terkena sinar matahari, maka tembakau akan membusuk dan harganya anjlok.
''Kalau sudah dirajang harus secepatnya dikeringkan. Karena di desa saya hujan, maka saya harus mencari tempat yang tidak hujan hingga sampai di Desa Mojosongo,'' katanya.
Beruntung, dia memiliki mobil sendiri sehingga tidak perlu keluar ongkos lebih besar. Diakui, harga tembakau lebih baik dibandingkan tahun lalu. Saat ini, harga tembakau basah petik mencapai Rp 3.500/ kg, lebih tinggi dibanding tahun lalu sebesar Rp 2.500- Rp 3.000/ kg.
Hanya saja, pihaknya saat ini kesulitan mendapatkan tembakau berkualitas bagus. Sebagian besar tembakau rusak karena tingginya curah hujan.
Ririn (40) pekerja pengeringan tembakau mengaku, dia bekerja bersama kelompoknya sebanyak 8 orang dengan sistem borongan. Tugasnya, mengolah tembakau dari merajang hingga mengeringkan dan mengepak dalam keranjang.
Karena kawasan Musuk hujan, maka pekerjaannya terhambat karena harus turut menjemur tembakau rajangan hingga kawasan Mojosongo. Padahal, bila pengeringan bisa dilakukan di Musuk maka, waktunya tidak habis terbuang.
( Joko Murdowo / CN26 )