
Solo, CyberNews. Kaum penyandang cacat di Solo memanfaatkan lidi menjadi barang layak guna. Mereka menyulapnya menjadi kerajinan tas.
Kegiatan itu diprakarsai oleh Fokkus (Forum Komunikasi Komunitas) Difabel Surakarta. Dalam kelompok itu, jumlah penyandang cacat sebanyak sekitar 380-an orang. Namun, yang ikut membuat kreasi hanya 32 orang.
Kegiatan itu salah satunya bertujuan untuk memberdayakan kaum difabel yang masih dianggap sebelah mata oleh masyarakat. Justru, mereka ingin bangkit dan tidak mau dianggap sebelah lagi. “Karenanya, kami mengajak teman-teman difabel untuk membuat tas yang berbahan dasar dari lidi. Kebetulan, setahu kami di Solo belum ada yang menekuninya,” kata Rochmad Wahyudi, Sekjend Fokkus Difabel.
Mereka memulai menciptakan kerajinan itu belum lama. Terhitung baru sekitar dua bulan yang lalu. Tiba-tiba, ide muncul untuk membuat kerajinan yang bisa dipasarkan dan menghasilkan uang. Nah, hasil kerajinan itu dinamakan ‘Arsy Handicraft’.
Menurut Yudi, panggilan Rochmad Wahyudi, proses pembuatan tas tersebut melewati berbagai tahap. Di antaranya, pembentukan bahan baku yang disesuaikan pesanan, merangkai bentuk tas, memasang lis atau pernak-pernik dan yang terakhir adalah tahap penyelesaian. “Dalam satu hari, kami bisa menghasilkan antara lima sampai delapan tas. Namun, misal ada pesanan lebih dari angka itu, kami siap lembur,” tuturnya lantas tersenyum.
Karena usaha itu belum lama dirintis, mereka memiliki satu kekhawatiran. Yaitu, hasil kerajinannya tersebut takut diklaim buatan industri rumahan atau orang lain. Hal itu cukup beralasan. Sebab, tas yang telah dibuatnya selama ini belum mendapat hak paten dari pemerintah. Apalagi, pemasarannya tidak di Solo.
Karena kekhawatiran itu, pihaknya berniat mengajukan hak paten ke pemerintah untuk segera menetapkan usahanya. “Satu yang kami inginkan dulu adalah hak paten. Setelah memiliki hak paten, kami siap mengembangkan kerajinan ini,” imbuhnya.
Meski usianya baru terhitung seumur jagung, usaha yang dikembangkannya sudah mendapat keuntungan yang tidak sedikit. Dalam satu bulan, omzet yang didapatnya senilai Rp 4 juta. Sebab, sebulan mereka bisa membuat antara 300 hingga 400 tas. Sedangkan, jenis tas yang ditawarkan ada yang berbentuk mini, tas pinggang dan tas besar. Bahkan, untuk tempat hand phone juga tersedia.
( Arif M Iqbal / CN12 )