panel header
DHUWUR WEKASANE, ENDHEK WIWITANE
Akhirnya Mulia, yang semula sederhana
panel menu
panel news ticker
EKSPRESIKAN SAYANGMU... Ngucapin Valentine dapat hadiah? Yok Ikutan...!! Caranya mudah: (1) Bikin video ucapan kasih sayang durasi 1 menit. (2) Kirimkan ke wall facebook Suara Remaja atau share link Youtube ucapan kamu ke email suararemaja@ymail.com. Dapatkan modem, handphone, goodiebag, dan masih banyak lagi hadiah menarik. Ayo...buruan sekarang juga...!!
panel iklan Hosrizon
panel main 1
15 Juni 2010 | 13:03 wib
Ada Kepentingan Bisnis di Balik Pengontrolan Tembakau

Yogyakarta, CyberNews. Ketika para penggiat anti tembakau masih sibuk mengkampanyekan bahaya tembakau dan menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan yang ketat, sesungguhnya korporasi internasional yang mendapat keuntungan bisnis. Dari agenda itu, justru mereka sibuk menghitung peluang keuntungan dari bisnis tersebut. Hal itulah yang coba dikritisi oleh Wanda Hamilton dalam bukunya yang berjudul "Nicotine War, Perang Nikotin dan Para Pedagang Obat".

Dia, dalam bukunya tersebut, bercerita mengenai fakta-fakta di balik agenda global pengontrolan atas tembakau. Menurutnya, ada kepentingan besar bisnis perdagangan obat-obatan yang dikenal dengan "Nicotine Replacement Theraphy" (NRT).

Di sana sangat kuat kesan dan indikasi bahwa kepentingan kesehatan publik melalui kampanye bahaya tembakau, hanyalah bungkusan dari motif kepentingan bisnis perdagangan produk NRT.

Pada tahun 1980-an, badan-badan kesehatan masyarakat sudah bersiaga penuh untuk melancarkan serangan terhadap perilaku merokok sebagai isu kesehatan publik. Perusahaan farmasi justru melihat itu sebagai peluang emas untuk menawarkan produk-produk nikotin mereka sendiri sebagai alat bantu berhenti merokok.

"Dan jelas tak ada yang lebih menguntungkan dibandingkan kenyataan bahwa lembaga kesehatan dunia ikut membantu memasarkan obat-obatan berhenti merokok sebagai bagian dari program pemberantasan merokok," ujarnya dalam diskusi dan bedah bukunya di gedung FIB UGM, Selasa (15/6).

Sementara itu, dalam pandangan pakar ekonomi UGM, Revrisond Baswir, saat ini bangsa Indonesia sebenarnya tengah dijajah bukan pada sektor riil tetapi pada mindset atau cara pandang seseorang dalam melihat persoalan. Dalam kaitannya dengan merokok dan kesehatan, riset mengenai kampanye anti merokok saat ini bukan lagi berdasarkan pikiran ilmiah tetapi untuk kepentingan kelompok korporasi yang ingin merebut emas.

"Perebutan emas nikotin adalah mengenai bagaimana cara manusia mengkonsumsinya. Perusahaan farmasi mengamati bagaimana cara manusia menikmati rokok, kemudian mereka sembari mempersiapkan produk pengganti dan merebut pasar dari masyarakat yang mengkonsumsi rokok tersebut," katanya.

Dalam pandangannya, masalah pro merokok atau tidak merokok kini menjadi tidak relevan lagi manakala terdapat korporasi kepentingan.

( Bambang Unjianto / CN12 )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
Berita Terbaru
11 Februari 2012 | 23:58 wib
Dibaca: 232
11 Februari 2012 | 23:45 wib
Dibaca: 298
11 Februari 2012 | 23:35 wib
Dibaca: 147
11 Februari 2012 | 23:20 wib
Dibaca: 261
11 Februari 2012 | 23:05 wib
Dibaca: 148
Panel menu tepopuler dan terkomentar
Berita Terpopuler
02 Februari 2012 | 07:35 wib
01 Februari 2012 | 19:18 wib
01 Februari 2012 | 23:31 wib
FOOTER